APA yang dilakukan, bukan SIAPA yang melakukan

Aku tidak peduli apakah kau Jawa, Batak, Buddhis, ateis, angkuh, cuma tamatan sekolah dasar, abang becak, pelacur, pemabuk, atau pemakai narkoba, yang penting kau tidak menjahati orang lain. ~Twitter @ja_rar

Aku bisa membaca ketulusan atau ketidaktulusan dalam tutur katamu bahkan ketika kau belum menuntaskan kalimatmu. Aku bisa menyelami jalan pikiranmu yang sesungguhnya dengan membaca beberapa paragrafmu bahkan walaupun kau sengaja “mendandani” kalimat-kalimatmu. Aku bisa mengetahui apakah kau maling atau penipu bahkan ketika kau tak berkata-kata.

MenulisKalimat.com: Menulis Kalimat Tepat Makna

Situs Menulis Kalimat™ tidak semata-mata menerbitkan artikel mengenai kaidah baku tata bahasa Indonesia, melainkan kiat menulis kalimat yang tepat makna—bukan sekadar kalimat berbunga-bunga dan bukan pula teori berpautan jargon-jargon gramatikal—dan bagaimana memakai tanda-tanda baca dengan cara tidak biasa yang bahkan menabrak teori tata bahasa Indonesia!

MAKLUMAT PENTING LAGI GENTING!
Baca dengan saksama supaya engkau tidak menyesal.

Artikel-artikel tentang tata bahasa Indonesia di MenulisKalimat.com kutulis BUKAN untuk murid sekolah dan BUKAN sebagai rujukan pelajaran bahasa Indonesia—kendati kaum pelajar tidak kularang membacanya—, melainkan untuk kalangan praktisi bahasa, seperti wartawan, editor, penulis buku, narablog, cerpenis, esais, dsb.

Akan sering kautemukan “ajaran sesat”-ku—yang bertentangan dengan teori-teori tata bahasa Indonesia yang galib diajarkan oleh guru bahasa dan tertulis dalam buku pelajaran bahasa—di situs ini, akun media sosialku di Twitter @spa_si, Halaman Facebook Menulis Kalimat, dan Laman Google Plus +Tolak Alay!. Jika kau tidak memercayainya dan tidak cukup bernyali, jangan anut! Dan bila kauturuti, risiko ditanggung sendiri-sendiri.

Contohnya, komposisi kalimat sejenis Mendengar berita itu, ia pun bergegas pergi sering kupakai meskipun salah menurut tata bahasa Indonesia yang baku. Guru bahasa Indonesia akan meminta murid untuk menulisnya dalam pola kalimat yang taat asas, yaitu dengan memindahkan subjek {ia} ke awal kalimat: Ia mendengar berita itu dan bergegas pergi atau Ia mendengar berita itu, lalu bergegas pergi. Pasti kauingat, kan: struktur kalimat S-P-O-K. Atau, contoh lain, aku sering menulis kata penghubung {dan} serta {atau} di awal kalimat walaupun itu tabu menurut kaidah baku tata bahasa kita.

Jadi, kalau kauikuti ajaranku di situs ini atau akun media sosialku, berarti kau telah setuju bahwa segala risiko adalah atas tanggung jawabmu sendiri. Jangan memprotesku seumpama dosen atau guru bahasamu memberimu ponten merah karena kau menjawab soal-soalnya dengan kaidah tata bahasa berakidahkan Menulis Kalimat™ yang dinilai si guru sebagai keliru.

Aku ulangi: situs ini tidak kuazamkan sebagai rujukan pelajaran bahasa Indonesia bagi siswa atau mahasiswa, terkecuali kau sendiri yang memperlakukannya demikian.

Aku sudah mewanti-wantimu ….

Dan lagi, aku tak ingin mendoktrinkan akidah kebahasaanku seperti tabiat kaum agamawi. Kau merdeka untuk memilih: tata bahasa yang merumitkan (dan kaku) atau tata bahasa yang mengentengkan (dan lentur) menulis kalimat.

Padanan {where} {di mana} sebagai konjungsi antarklausa: {tempat}. Itulah yang baku, tapi sengaja kutabrak! Kenapa?
— Menulis Kalimat™ (@spa_si) August 14, 2018