Kalimat aktif jadi kalimat pasif

Posted On // Leave a Comment
Bagaimana cara menulis kalimat aktif Marwan mau mencium Mawar ke dalam bentuk kalimat pasif? Apakah dapat ditulis menjadi Mawar mau dicium oleh Marwan?

Ada kalimat aktif yang tidak dapat diubah menjadi kalimat pasif, seperti Andi berteman dengan Budi tidak dapat dipasifkan sebagai Budi ditemani oleh Andi.

kalimat aktif bentuk pasif

Dalam kalimat aktif, subjek sebagai pelaku tindakan—yang menyatakan/melakukan sesuatu. Sedangkan dalam kalimat pasif, subjek dikenai tindakan.

Salah satu ciri kalimat aktif yaitu menggunakan kata kerja berawalan me- (termasuk memper-i dan memper-kan) atau ber-. Kalimat aktif juga bisa memakai kata kerja tanpa awalan me- atau ber-, seperti kata kerja aus pulang dalam kalimat Mereka pulang satu jam lalu. Sedangkan kalimat pasif memakai kata kerja berawalan di- (termasuk diper-i dan diper-kan) atau ter-.

Dalam kalimat pasif, kata kerja mencuri, misalnya, berubah bentuk menjadi dicuri; mencintai menjadi dicintai; menulis menjadi ditulis.

Contoh kalimat aktif: Berita kematian Mawar mengejutkan Marwan. Bentuk kalimat pasifnya: Marwan terkejut oleh berita kematian Mawar. Kata kerja mengejutkan (awalan me-) berubah menjadi kata kerja terkejut (awalan ter-).

Kalimat aktif Marwan telah membeli pulsa demi pacarnya, Mawar dapat diubah ke dalam bentuk kalimat pasif Pulsa telah dibeli oleh Marwan demi pacarnya, Mawar. Kata kerja membeli menjadi kata kerja pasif dibeli, dan subjek Marwan menjadi pulsa.

Kalimat aktif dan kalimat pasif dengan mau dan ingin


Ubahlah kalimat aktif Marwan ingin menonton konser Lady Gaga menjadi kalimat pasif. Seperti apa jadinya?

Menurut kaidah penulisan kalimat pasif, [apakah] menjadi Konser Lady Gaga ingin ditonton oleh Marwan? Masalahnya, kata ingin di sana memunculkan makna seolah-olah benda mati (konser Lady Gaga)-lah yang menginginkan supaya ditonton.

Kasusnya sama dengan kalimat Marwan mau mencium Mawar yang akan berubah makna jika dipasifkan Mawar mau dicium oleh Marwan. Nanti si Mawar akan protes: "Enak saja, aku tidak pernah mau untuk dicium!"

Dalam hal itu, ada kasus-kasus kalimat tertentu yang tidak bisa [dengan mudah] diubah ke dalam bentuk kalimat pasif, karena maknanya menjadi janggal atau berubah.

Cobalah ubah kalimat aktif Aku mau memeluk engkau ke dalam bentuk kalimat pasif.

Apakah Engkau mau aku peluk?

Bagikan artikel ini dengan URL pendek:
http://benar.org/Pasif

Kata berimbuhan: menghadiahkan, menghadiahi

Posted On // Leave a Comment
Perbedaan kata menghadiahkan dan menghadiahi, dan menuliskannya dalam kalimat supaya tepat makna. Kalimat kasus: pemberitaan mengenai pengacara Hotman Paris Hutapea yang memberikan satu mobil mewah senilai Rp9 miliar kepada putrinya Felicia Putri Parisienne Hutapea.

perbedaan kata menghadiahkan menghadiahi

Arti kata menghadiahkan: memberikan [sesuatu] sebagai hadiah.

Arti kata menghadiahi: memberikan [hadiah] kepada seseorang.

Perbedaan menghadiahkan dan menghadiahi


Kalimat yang salah: Hotman Paris menghadiahkan putrinya mobil Rp9 miliar. Kalimat yang benar: Hotman Paris menghadiahi putrinya mobil Rp9 miliar.

Kalimat yang salah: Hotman Paris menghadiahi mobil Rp9 miliar kepada putrinya. Kalimat yang benar: Hotman Paris menghadiahkan mobil Rp9 miliar kepada putrinya.

Kalimat rancu: ulang tahun yang ke-17


Kalimat ini rancu: Ulang tahun anak Hotman Paris yang ke-17. Pengacara Hotman Paris berhak protes mengapa ditulis bahwa dia memiliki 17 anak!

Menulis kalimat di atas dengan makna yang tepat: Ulang tahun yang ke-17 anak Hotman Paris. Dalam kalimat ini, angka 17 dimaksudkan pada "ulang tahun".

Menulis kalimat sederhana seperti kasus pengacara Hotman Paris itu pada dasarnya mudah. Tapi, jika ditulis dengan tidak cermat, makna kalimat bisa berbeda dari pesan yang sesungguhnya hendak disampaikan penulis, dan pihak lain pun bisa dirugikan.

Jika engkau memiliki contoh kalimat dengan kata kerja berakhiran -kan dan -i yang hendak kautanyakan, sila sampaikan di kotak komentar.

Bagikan artikel ini dengan URL pendek:
http://tpn.li/imbuhan

Penulisan nama orang

Posted On // Leave a Comment
Apakah boleh mengubah ejaan dalam penulisan nama orang supaya sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan? Contoh kasus, menulis nama Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Jenderal Soedirman, dan Akbar Tandjung, apakah huruf "oe" dan "dj" bisa digantikan dengan "u" dan "j"? Apa dampaknya jika kita mengubah penulisan nama orang?

penulisan nama orang ejaan lama

Nama orang mesti ditulis secara persis, termasuk ejaan yang dipakai ketika nama itu dibuat, kecuali si pemilik nama telah mengubahnya. Itulah yang dilakukan Presiden Soekarno semasa hidupnya.

Huruf "oe" dalam penulisan nama Soekarno dan Soeharto menggunakan Ejaan van Ophuijsen. Sekarang, sesuai Ejaan yang Disempurnakan, huruf tersebut ditulis sebagai "u".

Banyak koran Indonesia menuliskan nama Bapak Bangsa itu sebagai Sukarno, tapi masih ada juga yang bertahan dengan Soekarno. Versi manakah yang benar?

Penulisan nama yang benar: Soekarno atau Sukarno, Soeharto atau Suharto


Menurutku, nama presiden pertama Bung Karno dapat kita tulis dalam kedua versi itu: Soekarno (dengan "oe") dan Sukarno (dengan "u"). Aku berpendapat demikian karena Bung Karno sendirilah yang mengubah ejaan namanya tersebut.

Menurut Wikipedia:
Di kemudian hari ketika menjadi Presiden Republik Indonesia, ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno, karena menurutnya, nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda).

Tapi, masih mengutip Wikipedia, khusus dalam menandatangani surat-surat kenegaraan, sebagai Presiden Indonesia, Bung Karno tetap menulis namanya dalam versi yang asli: Soekarno, dengan "oe". Menurutku, dalam hal ini Presiden Soekarno sangat memahami dampak hukum dari kesemrawutan penulisan nama orang.

Sedangkan penulisan nama mendiang Presiden Soeharto tetap harus dalam ejaan lama yang menggunakan "oe", bukan Suharto dengan "u". Aku pernah mengecek surat-surat resmi yang diteken oleh Presiden Soeharto di situs-situs lembaga pemerintah kita, semisal Surat Keputusan Presiden dan Undang-Undang, ternyata menggunakan versi Ejaan van Ophuijsen: Soeharto, dengan "oe".

Ejaan nama orang: Jenderal Besar Soedirman, Akbar Tandjung


Nama Jenderal Besar TNI Anumerta Soedirman pun ditulis dalam ejaan lama yang menggunakan "oe", bukan Sudirman dengan "u".

Menulis nama mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Akbar Tandjung yang benar adalah dengan "dj" pada marganya, bukan Akbar Tanjung dengan "j". Namanya itu memakai Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.

Dampak mengubah penulisan ejaan nama orang


Contohkan saja di sebuah kampung ada dua orang tua, sama-sama pendeta gereja, yang bernama mirip: Ruhut dan Roehoet. Nama pertama memakai Ejaan yang Disempurnakan, sedangkan nama kedua dengan Ejaan van Ophuijsen.

Suatu hari wartawan koran lokal menulis berita: "Pdt. Ruhut dilaporkan ke polisi, diduga korupsi dana gereja." Keluarga dan kenalan Pendeta Ruhut yang membaca berita koran itu heboh. Padahal yang diadukan adalah Pdt. Roehoet. Si wartawan pun digugat ke pengadilan.

Orang pintar, orang baik

Posted On // Leave a Comment
Kita tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi orang pintar. Cukup berusaha keras untuk menjadi orang baik.



Aku sengaja menulis kalimat itu dengan kata-kata sederhana. Pertama kali kutulis di Google Plus kemarin. Dan memang aku lebih menyukai kata-kata yang ringan daripada kata-kata yang berat.

Walau begitu, menulis kata dan kalimat secara sederhana tidak otomatis membuat semua pembaca dapat menangkap maknanya secara tepat. Ada orang yang mungkin mengartikan kalimat tadi: berarti tidak penting menjadi orang pintar?

Kalimat tepat makna


Kalimat tersebut tidak memiliki makna atau pesan bahwa kita tidak penting belajar atau tidak perlu menjadi orang pintar. Bukan itu.

Di sana, persis setelah kata-kata tidak perlu tertulis kata memaksakan diri. Jadi, hal yang tidak perlu dalam kalimat "kita tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi orang pintar" adalah memaksakan diri, bukan menjadi orang pintar.

Sedangkan makna kata-kata dalam kalimat yang kedua—"Cukup berusaha keras untuk menjadi orang baik"—persis seperti yang tertulis. Jadi, kalau masih ada yang mengartikan kalimat itu secara salah, aku angkat tangan. Juga kalau ada yang bertanya apa makna orang baik itu, aku akan bertafakur.

Kalimat adalah pikiran, bukan batu

Posted On // Leave a Comment
Apa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis kalimat, tanya pembaca Menulis Kalimat. Ini lima kiat mendasar menulis kalimat. Pedoman pangkal: kalimat yang baik itu mesti mudah dipahami.

bagaimana menulis kalimat yang baik

Saya menulis ujar-ujar ini di Twitter @spa_si:
Kalimat adalah pikiran, bukan batu. Kalimat harus encer untuk dicerna, tidak dilemparkan begitu saja seperti batu.

Kalimat yang "dilemparkan begitu saja seperti batu" adalah kalimat yang tidak jelas ujung dan pangkalnya. Contoh sederhana, katakanlah seseorang menulis:
Galau banget hari ini. Dia protes melulu. Gak bisa tidur. Nanti marah lagi, baru tahu rasa.

Keempat kalimat di atas, yang termasuk ragam bahasa tulis tidak formal, tak mudah dipahami, bahkan walaupun sudah ditulis dalam bentuk kalimat sederhana. Penyebabnya: siapa yang galau? (penulis ataukah dia?) Siapa yang tidak bisa tidur? Siapa yang akan marah?

Kiat menulis kalimat bahasa Indonesia


Menulis kalimat yang baik melingkupi banyak hal: mulai pemilihan kata, pola kalimat, hingga penggunaan tanda baca. Tapi, standar menulis kalimat yang baik tidaklah sama apabila diterapkan pada ragam bahasa tulis yang berbeda. Penulisan fiksi dan karya jurnalistik, misalnya, punya pakem yang berbeda.

Sekadar contoh, novelis tersohor sering berpesan agar penulis menghindari bentuk kalimat pasif, karena memang kalimat aktif lebih kuat dan lebih enak dibaca. Namun, sebaliknya, dalam menulis berita, wartawan justru sering dengan sengaja memilih bentuk kalimat pasif demi efek-efek tertentu sesuai kebijakan redaksi.

Lima kiat di bawah ini adalah untuk penulisan kalimat dalam ragam bahasa tulis yang umum, bersifat mendasar, dan terutama untuk menjawab pertanyaan apa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis kalimat.

Pokok kalimat atau subjek


Inilah unsur kalimat yang utama. Perhatikan contoh kasus kalimat tadi: subjeknya tidak jelas, pembaca pun jadi bertanya-tanya. Karena itu, janganlah lupa untuk menulis pokok kalimat: siapa atau apa.

Jika kalimat memiliki lebih dari satu pelaku, cermatlah ketika harus memakai kata ganti orang dia atau ia. Jangan sampai pembaca salah memahami siapa yang melakukan apa. Apabila kalimat berpotensi membingungkan pembaca, tulislah nama si pelaku, jangan dia.

Temanku Mawar galau banget hari ini, karena dia pacarnya Marwan protes melulu. Tadi dia Mawar meneleponku, karena dia gak bisa tidur. "Nanti aku marah lagi, baru tahu rasa dia," kata Mawar, memaksudkan Marwan.

Kata penghubung: lebih dari satu predikat


Pakailah kata penghubung, seperti dan, tetapi, karena, yang, supaya, apalagi, sebaliknya, lantas, bahwa, walaupun, dan sebagainya dalam menulis kalimat yang memiliki lebih dari satu subjek dan/atau predikat, terlebih-lebih kalimat kompleks yang beranak pinak.

Menulis kalimat berbeda dari mengucapkan kalimat. Dalam ragam bahasa lisan, kita tidak salah mengatakan:
Dia suka nulis puisi, nggak pintar berdeklamasi, adiknya nggak tahu nulis puisi, pintar berdeklamasi.

Namun, dalam ragam bahasa tulis, kalimat itu perlu memakai kata penghubung:
Dia suka nulis puisi, tapi nggak pintar berdeklamasi, dan sebaliknya, adiknya nggak tahu nulis puisi, tapi pintar berdeklamasi.

Tanda baca, khususnya tanda tanya dan koma


Perhatikan tanda-tanda baca dalam menulis kalimat. Meskipun tanda baca hanya satu karakter, dampaknya bisa fatal. Lihat contoh kasus kalimat tanpa tanda tanya dalam artikel "Pacar marah gara-gara tanda tanya".

Tanda baca koma membantu memperjelas unsur-unsur kalimat. Tapi, jika koma digunakan berlebihan, makna kalimat bisa berubah. Lihat contoh kasusnya pada artikel mengenai tanda baca koma.

Menulis kalimat jernih: kosakata khusus dan hidup


Tulislah lebih banyak kata khusus daripada kata umum. Semakin terinci semakin bagus.

Menulis kalimat Semua bupati memiliki mobil adalah lebih bagus daripada Semua bupati memiliki kendaraan roda empat.

Pakailah kata-kata yang hidup. Hindari kosakata yang kabur. Jangan pamerkan jargon kalau tidak harus—tentu saja ragam bahasa tulis khusus, seperti makalah ilmiah dan pembelaan pengacara di pengadilan, memerlukan banyak jargon. [Lihat artikel terkait perihal jargon dan argot.]

Karyawan masih tidak yakin apakah benar gaji mereka dinaikkan bulan depan.

Bandingkan dengan:

Karyawan masih memiliki kebimbangan apakah benar gaji mereka mengalami penyesuaian bulan depan.

Kata-kata tidak yakin lebih hidup daripada memiliki kebimbangan. Kata dinaikkan lebih jelas maksudnya ketimbang mengalami penyesuaian.

Untuk melihat beberapa contoh kalimat yang tidak jernih karena memakai banyak jargon dan kata-kata yang tidak hidup, silakan baca artikel "Kalimat tingkat dewa"—pssst! Siap-siap pening membacanya.

Kalimat tepat makna: jangan mendua


Aku pernah, dan mungkin juga kau, membaca kalimat yang maknanya bisa ditafsirkan lebih dari satu. Kalimat yang baik seharusnya memiliki cuma satu makna. Penulis yang baik tidak membiarkan kalimat-kalimatnya disalahpahami.

Hanya sedikit penulis yang tidak diharamkan menulis kalimat mendua makna, antara lain penulis syair. Bahkan, penyair pun halal menulis kalimat yang "dilemparkan begitu saja seperti batu" atau kalimat yang tidak jelas ujung dan pangkalnya.

Tanyakan, kataku. / Kautanya, kujawab. / Tuliskan, kataku. / Kautulis, kubaca. / Bacakan, kataku. / Kaubaca, kudengarkan. / Puas sudah. / Sekarang tidurkan aku, kataku. / Kok malah kautiduri?

"Puisi Bahasa" itu kutulis di Twitter.

Pacar marah karena tanda tanya

Posted On // 1 comment
Tanda baca sering dianggap sepele, disengaja atau tidak, termasuk tanda tanya. Aku sering salah paham membaca kabar dari teman yang dikirim lewat pesan pendek ponsel (SMS) atau surel (email), dan mungkin kau juga pernah mengalaminya.

tanda tanya

Dalam ragam bahasa tutur atau lisan, tanda-tanda baca digantikan dengan lagu kalimat atau intonasi. Kita bisa dengan mudah mengenali, misalnya, tanda tanya atau tanda seru dari aksen yang meninggi ketika seseorang melafalkan kata-katanya.

Namun, tidak demikian halnya dalam ragam bahasa tulis. Setiap tanda baca dalam tulisan mesti dipakai jika memang harus dipakai, tidak boleh diabaikan. Tanda tanya, contohnya, tidak dapat digantikan dengan spasi atau tiga titik. Menulis kalimat tanya harus diakhiri dengan tanda baca tanya (?). Menulis kalimat perintah, teriakan, dan seruan mesti ditutup memakai tanda baca seru (!). Begitu seterusnya untuk tanda-tanda baca yang lain.

Dalam ragam bahasa tulis tidak formal, bisa dimaklumi kalau seseorang menulis pesan SMS kepada pacarnya dengan mengobral tanda titik dan tanda baca koma walaupun sebenarnya tidak perlu:
say ... malam kemarin, sepulang nonton bareng, rasanya gimana ya,,, aku jadi nggak bisa tidur,,, kalau kamu ... gimana perasaanmu ...

Lupa menulis tanda tanya, makna pesan berubah


Menulis SMS atau surel secara terbatas kepada beberapa teman dekat tanpa mengindahkan tanda-tanda baca, umumnya bisa diterima. Tapi, kusarankan, jika teksmu itu kautuliskan untuk publik, seperti artikel di situsmu atau status publik di Facebook-mu, pakailah tanda-tanda baca pada tempatnya. Jangan sampai gara-gara hal itu banyak orang jadi salah paham membaca tulisanmu.

Aku sendiri sering salah memahami tulisan teman yang dikirim melalui surel atau SMS. Misalnya, pernah temanku menulis pesan singkat lewat ponsel:
bang besok nggak bisa ketemu ya

Aku marah. Segera kutelepon dia: "Apa-apaan kau ini! Kemarin kaudesak aku untuk bertemu, tapi sekarang malah kau yang membatalkan."

Kemudian dia membalas: "Maksudku bukan begitu, Bang. Aku hanya ingin memastikan saja apakah besok Abang bisa datang atau tidak."

Nah, itu dia! Temanku tersebut seharusnya menulis SMS-nya dengan tanda baca tanya di akhir kalimat:
bang besok nggak bisa ketemu ya?

Terkesan sepele, bukan? Bayangkan seandainya kasus kalimat tanpa tanda tanya itu terjadi antara kau dan bosmu di kantor, atau kau dan mitra bisnismu, mungkin dampaknya bisa lebih luas—bukan sekadar kesal di hati.

Atau, bila kau mau mengetes betapa mujarabnya tanda baca tanya, cobalah menulis kalimat kepada pacarmu:
Nggak kusangka, benar bapakmu pernah dipenjara karena korupsi.

Kalau kemudian dia marah atau hendak minta putus, segera katakan kepadanya: "Maaf, Beib, tombol tanda tanya di laptopku rusak."

Tanda baca petik yang "gaib"

Posted On // 2 comments
Tanda baca petik, atau juga sering disebut tanda kutip, berfungsi secara utama untuk mengapit kalimat langsung; judul artikel, bab buku, syair, dsb.; istilah asing atau jargon yang belum merakyat. Itulah yang diajarkan guru bahasa Indonesia di bangku sekolah, mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, dan sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan buatan resmi pemerintah kita.

tanda petik kutip dua

Contoh penulisan tanda petik


Pada kalimat langsung:
Pak Raden berkata kepada Pak Ogah, "Kau jangan lagi mengganggu Unyil ya!"

Pada kutipan judul artikel, bab-bab buku, jargon atau kata khusus, dsb.:
Bukan hanya polisi yang sering melakukan "delapan enam", wartawan Indonesia juga banyak seperti itu.

Yang tidak diajarkan, atau jarang diajarkan, dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah bahwa tanda baca petik pun berfungsi sebagai penanda makna tidak sebenarnya.

Fungsi "gaib" tanda baca petik: makna tak sebenarnya


Banyak wartawan Indonesia sering menggunakan tanda petik dalam teks berita untuk mengingatkan pembaca bahwa kata, frasa, atau bagian kalimat yang diapit petik mesti ditafsirkan dengan hati-hati, jangan ditelan bulat-bulat—perhatikan: ditelan bulat-bulat tidak kutulis dalam tanda petik meskipun mustahil sebaris teks untuk ditelan, karena ungkapan ditelan bulat-bulat sudah sangat umum dipahami.

Musisi Viky Sianipar pada sampul albumnya tahun 2008 menulis: terima kasih kepada "Raja Iblis" Jarar Siahaan.

Kedua kata itu, Raja Iblis, diapit dengan tanda baca petik karena tentu saja tidak benar bahwa Jarar Siahaan sebagai pemimpin pasukan iblis.

Kau juga dapat memakai tanda petik dalam artikel situsmu atau status Facebook-mu untuk tujuan serupa. Tapi, berhati-hatilah, jangan sampai yang muncul justru penyangkalan terhadap pesan yang ingin kaumaksudkan.

Aku "mencintaimu"


Misalnya kau sedang jatuh cinta kepada seseorang tapi agak malu untuk mengatakannya secara langsung, lalu kautuliskan status terbatas ke Dinding Facebook-nya:
Hai, kau jangan marah ya. Aku "mencintaimu" sejak tahun lalu kita berkenalan di FB.

Dengan memakai tanda baca petik pada kata mencintaimu, artinya bisa saja bahwa kau tidak benar-benar mencintainya. Kata terhimpit kutip itu bisa dimaknai berbeda olehnya, apalagi kalau dia lihai berbahasa. Jika kau bermaksud menegaskan atau menekankan kata mencintaimu, pakailah huruf miring, garis bawah, huruf kapital, atau cetak tebal: "Aku MENCINTAIMU, sungguh!" Dia mungkin akan riang gembira membacanya.

Silakan kautuliskan opinimu, pertanyaanmu, atau contoh kalimatmu berkaitan topik artikel ini di kolom komentar. Jangan khawatir, aku tidak "menggigit" menggigit.

Alamat baru Menulis Kalimat

Posted On //
Setelah sekitar dua minggu Menulis Kalimat terbit, mulai sekarang engkau dapat mengunjungi situs ini melalui alamat baru yang lebih singkat dan mudah diingat: menuliskalimat.com atau www.menuliskalimat.com.

Silakan kaumarkahi beranda menuliskalimat.com pada peramban webmu (tekan tombol Ctrl dan D). Atau, jadikan sebagai laman awalmu dengan menambahkan menuliskalimat.com pada kolom Home Page (klik Tools » Options » isikan http://menuliskalimat.com/ pada » Home Page » OK).

Bagi engkau yang baru pertama kali membaca Menulis Kalimat, kuucapkan "selamat kesasar di tempat yang tepat." Di sini kujamin engkau takkan tersesat untuk menyadari bahwa menulis kalimat dalam bahasa Indonesia tidak lebih sulit ketimbang dalam bahasa Inggris.

Apabila engkau dapat dengan mudah menulis I love you, Beib! pada status Facebook-mu, menulis Mawar, Maafin Marwan ya! pun seharusnya tidak salah kaprah.

Penafianku yang perlu kauketahui sebelum dirimu telanjur berharap: di sini aku tidak menulis teori-teori tata bahasa Indonesia seperti kita pelajari di bangku sekolah, dan bahkan dalam banyak kasus, aku justru akan sengaja menabrak teori tata bahasa itu.

Bah! Suka-suka penulis Batak ini pulak!

Untuk lebih jelasnya, baca penjelasanku di laman "Menulis Kalimat dan Tanda Baca".

Untuk mengikutiku di situs Facebook, meluncurlah ke laman Menulis Kalimat (fb.com/menuliskalimat), lalu klik tombol Suka di sana.

Dan ingatlah: untuk menyukai bahasa Indonesia, kau tidak perlu harus lebih dulu menyukaiku atau pun guru bahasamu.

Dalam beberapa bulan ini saya sangat jarang menulis artikel di situs MenulisKalimat.com. Namun, di media sosial Facebook, Twitter, dan Google+ saya masih aktif hampir saban hari menulis status-status pendek yang praktis perihal tata bahasa Indonesia. Sukailah laman FB @Menulis Kalimat, ikuti Twitter @spa_si, dan lingkari Google+ @Tata Bahasa Indonesia.
—www.jarar.net