Klitik kau-, proklitik ku-, enklitik -ku

Posted On // 5 comments
Memburaskan penulisan {kau-}, {ku-}, dan {-ku}, bentuk ringkas atau klitik dari kata ganti orang {engkau} dan {aku} dalam bahasa Indonesia, apakah serangkai atau terpisah dari kata yang mengikuti dan mendahuluinya. Penulisan yang benar: kautuliskan. Tapi, apakah bisa ditulis dalam bentuk kaumenuliskan? Klitik {ku-} bersifat sebagai proklitik, namun klitik {kau-} tidak wajib sebagai proklitik. Penulisan enklitik {-ku} mutlak: harus serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

klitik proklitik enklitik bahasa Indonesia kau ku

Apa arti klitik, proklitik, enklitik


Proklitik termasuk klitik. Enklitik juga bagian dari klitik. Jadi, klitik terdiri dari proklitik dan enklitik. Makna ketiga jargon gramatikal ini menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:
  • klitik: bentuk yang terikat secara fonologis, tetapi berstatus kata karena dapat mengisi gatra pada tingkat frasa atau klausa, misal bentuk {-nya} dalam bukunya
  • proklitik: klitik yang secara fonologis terikat dengan kata yang mengikutinya, misal {ke} dalam ke rumah
  • enklitik: unsur tata bahasa yang tidak berdiri sendiri, selalu bergabung dengan kata yang mendahuluinya, seperti {-mu} dan {-nya} dalam bahasa Indonesia
Contoh proklitik: non-, anti-, ku-, kau-, ke, maha-, purna-, nir-. Contoh enklitik: -ku, -isme, -nya, -mu.

Penulisan klitik {ku-} dan {kau-} + kata kerja pasif


Proklitik {ku-} dan {kau-} ditulis serangkai (digabung) dengan kata yang mengikutinya. Kata setelah kedua klitik ini berupa kata kerja (verba) pasif. Contoh:
  • kutulis; kutuliskan
  • kurasa; kurasakan
  • kubaca; kubacakan
  • kauambil; kauambilkanlah
  • kaupakai; kaupakaikan
  • kaulihat; kauperlihatkan
Buku itu kubaca kemarin. {kubaca} dalam kalimat itu adalah bentuk pasif: aku baca ("dibaca oleh aku"). Apakah suratku sudah kaubaca? {kaubaca} dalam contoh kalimat kedua juga berbentuk pasif: engkau baca ("dibaca oleh engkau").

Penulisan klitik {kau-} dan {ku-} yang salah: verba aktif


Sedangkan penulisan klitik {ku-} dan {kau-} semisal dalam kumembaca, kumenulis, kumengingatkan, kaumembaca, kaumemedulikan, dan kaumemerkarakan adalah salah karena kata {membaca}, {menulis}, {mengingatkan}, dst. adalah kata kerja aktif, bukan verba pasif.

{kau} sebagai klitik dan sinonim dari pronomina persona {engkau}

Pernah ada yang bertanya kepadaku di Twitter @spa_si mengapa terkadang {kau} ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan di waktu lain ditulis serangkai. Sebelumnya aku berkeciak di Twitter: Pronomina persona {kau} sebagai sinonim {engkau} ditulis mandiri sebagai satu kata. Ke mana kau pergi pagi tadi?


{kau} dalam kalimat Twitter-ku di atas bukanlah sebagai klitik, melainkan sinonim dari {engkau}. Sebab itulah kutulis terpisah. Tetapi, ketika dituliskan serangkai, seperti kaumakan dan kausukai, {kau} di sana berlaku sebagai klitik, bukan sebagai sinonim dari pronomina {engkau}.

Enklitik {-ku} bukan sinonim dari kata ganti orang {aku}

Pemakaian enkliktik {-ku} serupa dengan enklitik {-mu} dan {-nya}, yaitu untuk menyatakan kepemilikan dan tujuan, serta ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), {ku} adalah:
bentuk ringkas dari pronomina persona pertama; bentuk klitik aku sebagai penunjuk pelaku, pemilik, tujuan: kuambil; rumahku; memukulku

Dalam KBBI, termasuk buku Tesaurus Bahasa Indonesia, kata {kau} bersinonim dengan {sampean}, {kamu}, {anda}, {engkau}, dan {saudara}. Tapi, tidak ada kata {ku} sebagai sinonim dari {aku}. Yang merupakan sinonim: {aku}, {saya}, {hamba}, {awak}, {beta}, {ana}, dan {gue}.

Oleh karena itu, tidak benar menulis kata-kata seperti ku ingat, ku bayangkan, dan ku rindu. {ku} tidak tercatat dalam kamus bahasa sebagai sinonim dari {aku}. Seharusnya ditulis: kuingat atau aku ingat, kubayangkan atau aku bayangkan, dan kurindu atau aku rindu.

Mana penulisan yang benar: kauharus, kau harus


Kata {harus} sebagai adverbia, yang bermakna mesti, ditulis mandiri sebagai satu kata. Maka, yang benar: kau harus. Buku KBBI sendiri memuat contoh kalimat pada lema {harus}: kalau dia tidak datang, kau harus menggantikannya.

Tapi, sebagai kata kerja pasif, [di-]haruskan, ia boleh ditulis serangkai: apakah dia kauharuskan untuk datang besok? [Bentuk aktif kaumengharuskan tidak tepat.]

Dengan demikian, klitik {ku-} bersifat sebagai proklitik: terikat dengan kata yang mengikutinya. Namun, klitik {kau} tidak wajib sebagai proklitik, karena kau juga bisa sebagai sinonim dari kamu. Aku menyimpulkan begitu setelah memperhatikan—bukan memerhatikan—contoh-contoh kalimat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Mana yang benar: kau simpan, kausimpan, kau katakan, kaukatakan


Keempat bentuk penulisan di atas sama-sama benar. Dalam kau simpan dan kau katakan, {kau} adalah sinonim dari {engkau}. Sedangkan dalam kausimpan dan kaukatakan, {kau} sebagai bentuk ringkas alias klitik dari {engkau}.

Berarti, {kau} bisa ditulis secara manasuka—bisa serangkai dengan atau boleh terpisah dari kata yang mengikutinya?

Ya, benar, kautulislah sesuka hatimu, dan kau akan baik-baik saja, seperti halnya kalimatku ini. Mau kauperlakukan {kau} sebagai klitik ataukah sebagai sinonim dari {engkau}, terserah kaulah.

Tetapi, jangan pula kau menyurat Ku cinta kau dengan sangat, karena kalimat itu amatlah pelak, kecuali namamu Ku, atau kue ku bisa merasa.

Sekian saja. Titik.


Bagikan artikel ini dengan URL pendek:
http://benar.org/klitik

Saya sering menulis teks ringkas perihal tata bahasa praktis di Twitter, Facebook, dan Google+. Ikutilah!



“Bagikan pengetahuanmu. Itulah jalan untuk menggapai keabadian.” —Dalai Lama XIV


KLIK tombol Suka/Tweet/g+1 di atas jika artikel ini berfaedah, dan bagikan kepada publik. Silakan narablog menyitat dengan syarat menautkan pranala laman kutipan.


TULIS komentar anda pada dua kotak di bawah dengan memakai Facebook atau Google+.


KEMBALI ke halaman beranda (klik logo) untuk melihat artikel terbaru.

Baca maklumat menuliskalimat.com

Tulislah komentar hanya terkait dengan artikel, dan jangan langgar etik berinternet (spam, trolling). Komentar dengan Facebook, Yahoo, Hotmail, atau Google+. Jika anda sudah punya akun Gmail, tinggal beberapa klik saja untuk mendapat alamat keren seperti google.com/+NamaAnda.

Sesekali saya sempat menjawab pertanyaan, termasuk di Twitter @spa_si dan +Tata Bahasa Indonesia, jika tidak membutuhkan jawaban panjang.

Narablog tak perlu izin untuk menukil tulisan dari menuliskalimat.com. Tautkan laman sumbernya; semudah itu saja. Jika anda pencinta nahunahu: tata bahasa; gramatika Indonesia dan ingin mendukung Menulis Kalimat, silakan pasang logo !’ di blog anda (lihat kodenya di bilah sisi kanan blog ini).

PENAFIAN: saya bukan sarjana linguistik atau penyelisik teori gramatika. Artikel di blog ini saya tulis berdasarkan pengalaman praktik menulis sebagai jurnalis. Karena itu, kalau anda ke situs ini untuk mencari tahu takrif diftongisasi, uraian kaidah fonologi, atau arti jargon verba ekatransitif, misalnya, harus saya katakan bahwa anda sedang … tersesat. Tak jarang pula saya sengaja menabrak kaidah baku tata bahasa Indonesia, seperti menulis pronomina anda dengan fonem pertama /a/ berhuruf kecil, serta menulis kata sambung dan di awal kalimat. Jadi, waspadalah! Dan jika sebab itu pikiran anda bergalau, segera hubungi guru bahasa terdekat.

Surat cinta terindah adalah yang dikembalikan dengan perbaikan tanda baca dan ejaan kata.

Jarar Siahaan di Tanah Batak
@ja_rar

Dalam beberapa bulan ini saya sangat jarang menulis artikel di situs MenulisKalimat.com. Namun, di media sosial Facebook, Twitter, dan Google+ saya masih aktif hampir saban hari menulis status-status pendek yang praktis perihal tata bahasa Indonesia. Sukailah laman FB @Menulis Kalimat, ikuti Twitter @spa_si, dan lingkari Google+ @Tata Bahasa Indonesia.
—www.jarar.net