Memerhatikan memesona, memerkarakan memunyai

Posted On // 3 comments
Menyigi penulisan yang benar. Manakah kata yang baku: memerhatikan atau memperhatikan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Ketiga: memerhatikan. Tapi, dalam KBBI Edisi Keempat, kata baku tadi diubah menjadi memperhatikan. Manakah yang benar antara memerkarakan dan memperkarakan? Apakah memesona atau mempesona? Memercayai atau mempercayai? Memerkosa atau memperkosa? Bagaimana pula dengan memunyai dan mempunyai, mana yang benar menurut kaidah baku tata bahasa Indonesia? Yang benar adalah memunyai!

yang benar mempunyai atau memunyai

Bukankah kitab KBBI menjadi tidak konsisten dalam pelesapan huruf pertama kata dasar berfonem awal /p/ yang dibubuhi gabungan afiks {me-kan} dan {me-i} karena KBBI membakukan memperkarakan dan mempunyai? Bukankah seharusnya memerkarakan dan memunyai?

Bukan soal janggal-tidaknya melafalkan kata-kata itu, melainkan perkara kaidah tata kata (morfologi), khususnya afiksasi atau pengimbuhan.

memperhatikan atau memerhatikan?


Pembentukannya dari kata dasar {hati} yang diimbuhkan dengan gabungan afiks {memper-kan} → awalan {meM-} + awalan {per-} + akhiran {-kan}.

Awalan {per-} tidak berubah wujud bila diimbuhkan pada kata apa pun, kecuali pada kata dasar {ajar} dan kata yang dimulai dengan konsonan /r/. Fonem pertama kata dasar yang dibubuhi juga tidak melumer dan tidak melesap.

Jadi, dari {per-} + {hati} didapatlah {perhati}. Kemudian kata tak bermakna {perhati} ditambahkan dengan sufiks {-kan}, menjadi {perhatikan}, dan akhirnya diparipurnakan dengan prefiks {meM-}, menjadi memperhatikan.

Dengan begitu, kata berimbuhan yang benar sesuai pustaka KBBI Edisi Keempat adalah memperhatikan, bukan memerhatikan.

Tapi, kenapa KBBI Edisi Ketiga membakukan memerhatikan? Karena penyusun buku itu membentuknya dari kata {perhati} yang diberi gabungan afiks {me-kan} → awalan {meM-} + akhiran {-kan}. Aku sendiri masih tercengang bengang melihat lema {perhati} dalam KBBI.

Mungkin sekarang terlintas dalam benakmu: bukankah memang ada bentuk dasar {perhati}? Karena, kata itulah yang diberi akhiran {-an} untuk membentuk {perhatian}, bukan?

Jelas bukan. Kata perhatian terbentuk dari kata dasar {hati} yang diimbuhkan dengan gabungan afiks {per-an}. Sekasus dengan kata berimbuhan perguruan, permainan, pertelevisian, perpustakaan, dan percintaan.

mempesona atau memesona?


Kata dasarnya {pesona}, yang diberi awalan {meM-}. Dalam morfologi, variasi prefiks {me-} antara lain adalah {mem-}, {men-}, dan {meng-}.

Engkau mungkin masih mengingat pelajaran bahasa Indonesia di bangku sekolah: bila awalan {me-} dibubuhkan pada kata-kata dasar yang berfonem pertama /k/, /p/, /s/, atau /t/, maka huruf pertama kata itu akan melumer menjadi bunyi nasal /ng/, /m/, /ny/, dan /n/, terkecuali fonem kedua kata itu berupa konsonan (seperti produksimemproduksi; kritikmengkritik).

Alhasil, seperti tersurat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bentukan yang benar dari {meM-} + {pesona} adalah memesona, bukan mempesona. Fonem pertama /p/ pada {pesona} melumer menjadi /m/.

memperkosa atau memerkosa?


Penjadian kata berimbuhan ini persis seperti kasus memesona, yaitu dengan afiks {meM-}. Kata dasarnya {perkosa}. Jadi, penulisan yang benar adalah memerkosa seperti dimuat dalam KBBI, bukan memperkosa.

mempercayai atau memercayai?


Penulisan kata yang benar menurut KBBI adalah memercayai, bukan mempercayai. Prosesnya mirip dengan memesona dan memerkosa.

Kata dasar {percaya} diberi gabungan afiks {me-i}, yakni awalan {meM-} dan akhiran {-i}. Dalam kasus kata percaya, prefiks {me-} menjadi {meM-} → /M/ didapat dari pelumeran /p/ pada {percaya}. Jadiannya, memercaya, kemudian ditambahkan dengan akhiran {-i}, dan akan menghasilkan bentuk memercayai.

mempunyai atau memunyai?


Kata berimbuhan yang benar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah mempunyai. Namun, aku sendiri tidak atau belum bisa menerimanya, karena kata turunan mempunyai tidak sesuai dengan kaidah pengimbuhan dalam morfologi bahasa Indonesia.

Menurutku, pembentukannya sebangun dengan memercayai. Kata dasar {punya} diberi gabungan imbuhan {me-i} → awalan {meM-} + akhiran {-i}. Maka, sesuai kaidah pelesapan, fonem pertama /p/ pada {punya} mesti lenyap, dan hasilnya adalah memunyai.

Jikalau kau tidak percaya, asas pelesapan pada kata-kata dasar berfonem pertama /p/ yang dikenakan imbuhan {me-}, {me-i}, dan {me-kan} itu bisa engkau ujikan pada kata selain {punya} dan {percaya}, dan hasilnya akan tetap sama. Contohnya, paksamemaksa (bukan mempaksa); pukulmemukul, memukuli (bukan mempukul, mempukuli); pulangmemulangkan (bukan mempulangkan); pakaimemakai (bukan mempakai); pasangmemasang (bukan mempasang).

mempunyai dari empunya?


Mungkin ada saja orang yang mengotot berpendapat bahwa mempunyai-lah yang benar karena dibentuk dari kata dasar empunya. Taruh katalah itu benar, lalu pembentukannya bagaimana? Memakai awalan {me-} plus akhiran {-i} jugakah? Baik, mari kita uji.

Prefiks {me-}, menurut kaidah pengimbuhan, akan menjadi {meng-} jika diimbuhkan pada kata-kata yang berfonem pertama vokal. Misal: mengekor, mengeja, mengasah, mengotot, mengurus, dan mengintip. Sekarang terapkanlah imbuhan {meng-} pada kata {empunya}, lalu tambahkan dengan akhiran {-i}. Mengempunyai? Nah, lo!

Maka, tidak benar bahwa mempunyai terbentuk dari kata {empunya}, melainkan dari kata dasar {punya}. Dengan demikian, penulisan yang baku adalah memunyai, bukan mempunyai.

Kalau misalnya ada orang berpendapat bahwa meMunyai terasa ganjil untuk diucapkan, lantas kenapa tidak berprinsip sama untuk kata meMaksa dan meMukuli? Mengapa tidak memakai kata mempaksa dan mempukuli saja kalau memang bunyi [M] (hasil pelumeran dari /p/) pada awalan {meM-} terdengar aneh? Ayo, mau cari alasan apa lagi untuk mengatakan memunyai tidak baku?

memperkarakan atau memerkarakan?


Penulisan kata berimbuhan yang benar menurut KBBI adalah memperkarakan. Sama halnya dengan perkara mempunyai, aku juga tidak sependapat dengan bentukan ini. Kata yang baku, menurutku, adalah memerkarakan.

Afiks yang dikenakan pada kata dasar {perkara} adalah gabungan imbuhan {me-kan}, yaitu awalan {meM-} dan akhiran {-kan}, bukan gabungan imbuhan {memper-kan}.

Prosesnya: fonem pertama /p/ pada kata {perkara}, sesuai kaidah pengimbuhan, akan melesap. Bila kata dasar berawalan konsonan /p/ dipasangkan dengan prefiks {me-}, muncullah variasi prefiks {meM-}. Maka, dari {memerkara} + akhiran {-kan} terbentuk memerkarakan.

Karena perkara bersuku kata tiga?


Aku pernah baca entah di mana, KBBI membakukan memperkarakan karena kata dasarnya, {per·ka·ra}, terdiri dari tiga suku kata. Konon bila awalan {me-} diimbuhkan pada kata semacam itu, fonem pertama kata dasarnya, seperti /p/ pada {perkara}, akan tetap alias tidak melesap.

Baik. Tapi, mengapa KBBI melesapkan /p/ pada bentukan memerkosa dan memercayai? Bukankah kata dasarnya juga terdiri dari tiga suku kata (per·ko·sa dan per·ca·ya)?

memengaruhi, bukan mempengaruhi


Kalau kau masih belum percaya, ujikanlah {me-kan} pada kata dasar lain yang dimulai dengan konsonan /p/. Lihatlah, misalnya, kenapa KBBI membakukan kata turunan memensiunkan? Kata dasarnya, {pen·si·un}, terdiri dari tiga suku kata pula, kan? Begitu juga pada lema kata dasar {pe·nga·ruh}, KBBI mencantumkan bentukan baku memengaruhi, bukan mempengaruhi.

Aku masih penasaran mengapa KBBI tidak memakai memerkarakan sebagai bentukan yang taat asas pengimbuhan. Adakah yang bisa memberikan jawaban yang masuk akal secara gramatikal dan berdasarkan ilmu linguistik?

Kalau begitu, kata mana yang harus kita pakai? Mempesona ataukah memesona; memperhatikan atau memerhatikan; memperkosa atau memerkosa; mempercayai atau memercayai; memperkarakan atau memerkarakan; mempunyai ataukah memunyai?

Aku sendiri sepaham dengan KBBI bahwa kata yang benar dan baku adalah memesona, memperhatikan, memerkosa, dan memercayai. Jadi, kata-kata itulah yang kupakai. Namun, dalam dua kasus terakhir, aku belum bisa menerima begitu saja bahwa memperkarakan dan mempunyai-lah yang (lebih) benar dibandingkan memerkarakan dan memunyai, sehingga aku masih akan memakai keempat kata berimbuhan itu secara los.

Alih-alih memperkarakan, engkau kupersilakan memerkarakan kata mempunyai dan memunyai!


Bagikan artikel ini dengan mengeklik tombol-tombol media sosial di bawah, atau dengan menyalin URL/alamat pendek:
http://benar.org/memunyai

“Bagikan pengetahuanmu. Itulah jalan untuk menggapai keabadian.” —Dalai Lama XIV


KLIK tombol Suka/Tweet/g+1 di atas jika artikel ini berfaedah, dan bagikan. Silakan narablog menyitat dengan syarat menautkan pranala laman kutipan.


TULIS komentar anda pada dua kotak di bawah dengan memakai Facebook atau Google+.


KEMBALI ke halaman beranda (klik logo) untuk melihat artikel terbaru.

Baca maklumat menuliskalimat.com

Tulislah komentar hanya terkait dengan artikel, dan jangan langgar etik berinternet (spam, trolling). Komentar dengan Facebook, Yahoo, Hotmail, atau Google+. Jika anda sudah punya akun Gmail, tinggal beberapa klik saja untuk mendapat alamat keren seperti google.com/+NamaAnda.

Sesekali saya sempat menjawab pertanyaan, termasuk di Twitter @spa_si dan +Tata Bahasa Indonesia, jika tidak membutuhkan jawaban panjang.

Narablog tak perlu izin untuk menukil tulisan dari menuliskalimat.com. Tautkan laman sumbernya; semudah itu saja. Jika anda pencinta nahunahu: tata bahasa; gramatika Indonesia dan ingin mendukung Menulis Kalimat, silakan pasang logo !’ di blog anda (lihat kodenya di bilah sisi kanan blog ini).

PENAFIAN: saya bukan sarjana linguistik atau penyelisik teori gramatika. Artikel di blog ini saya tulis berdasarkan pengalaman praktik menulis sebagai jurnalis. Karena itu, kalau anda ke situs ini untuk mencari tahu takrif diftongisasi, uraian kaidah fonologi, atau arti jargon verba ekatransitif, misalnya, harus saya katakan bahwa anda sedang … tersesat. Tak jarang pula saya sengaja menabrak kaidah baku tata bahasa Indonesia, seperti menulis pronomina anda dengan fonem pertama /a/ berhuruf kecil, serta menulis kata sambung dan di awal kalimat. Jadi, waspadalah! Dan jika sebab itu pikiran anda bergalau, segera hubungi guru bahasa terdekat.

Surat cinta terindah adalah yang dikembalikan dengan perbaikan tanda baca dan ejaan kata.

Jarar Siahaan di Tanah Batak
@ja_rar
Baca artikelku tiap hari di blog KHAS dot co
www.khas.co