Huruf besar dan huruf kecil

Posted On // Leave a Comment
Penulisan huruf besar (huruf kapital) menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dengan contoh-contoh yang sering salah kaprah. Bukan "Sekolah Menengah Atas". Ada nama diri yang huruf pertamanya bisa ditulis dengan huruf kecil.

huruf kapital huruf kecil

Huruf kapital dipakai, antara lain, sebagai unsur pertama kata di awal kalimat; huruf pertama pada kutipan kalimat langsung; dan huruf pertama pada nama jabatan yang diikuti nama orang atau nama lembaga.

Penulisan huruf besar yang benar dan salah


Berikut ini contoh penulisan huruf kapital yang acap kali membingungkan, karena dianggap bisa benar dan bisa salah.

1. Menulis "Status Facebook", bukan "status Facebook"
Kata status dalam kamus bahasa Indonesia adalah kata benda, sedangkan berstatus sebagai kata kerja. Aku sendiri sering menulis Status dengan huruf kapital untuk menyebut Status Facebook atau Status Twitter. Perhatikan kalimat ini: "Kenapa kau enggak menyukai statusku?" Dengan huruf kecil /s/ pada suku kata pertama statusku, pembaca bisa salah paham.

2. Nama diri dengan huruf kecil
Menurut kaidah tata bahasa Indonesia yang baku, nama orang, nama lembaga pemerintah, nama merek/perusahaan, dan nama wilayah mesti diawali dengan huruf kapital. Tapi, ada nama yang bisa ditulis dengan huruf kecil, seperti eBay dan iPod. Banyak media pers daring menuliskan kedua nama itu persis seperti aslinya. Aku sendiri lebih sering menulisnya secara normal, yaitu huruf besar pada huruf pertama: Ebay dan Ipod.

3. Huruf kapital tidak pada semua singkatan dan akronim
Umumnya singkatan dan akronim ditulis dalam huruf besar, misalnya KBBI, Bappenas, dan Bpk. Tapi, ada juga yang mesti ditulis dalam huruf kecil, seperti pemilu, pemkab, kabag, dan humas—kata-kata ini baru perlu ditulis dengan huruf kapital ketika diikuti (untuk menyebut) nama orang, nama wilayah, atau nama lembaga. Penulisan yang salah: Aku tidak ikuti Pilkada tahun ini. Benar: Aku tidak ikuti Pilkada Jakarta tahun ini. Salah: Jabatannya kini Kabag di Pemkab Toba Samosir. Benar: Jabatannya kini Kabag Hukum di Pemkab Toba Samosir.

4. Bukan "Sekolah Menengah Atas", bukan "Bahasa Indonesia"
Banyak orang yang sering menulis kalimat seperti "Sejak di bangku Sekolah Menengah Atas, aku tidak pintar mengarang."; "Marwan belum memiliki Kartu Tanda Penduduk."; atau "Mawar tidak menyukai pelajaran Bahasa Indonesia." Penulisan huruf kapital pada kata-kata Sekolah Menengah Atas, Kartu Tanda Penduduk, dan Bahasa Indonesia dalam kalimat itu jelas salah. Yang benar: sekolah menengah atas, kartu tanda penduduk, dan bahasa Indonesia.

5. Huruf kecil pada "mengindonesiakan", dan bukan "men-Tuhankan"
Pernah kubaca, ada penulis blog yang bersikeras menulis kata turunan men-Tuhankan dan meng-Indonesiakan dengan huruf kapital pada Tuhan dan Indonesia. Alasan dia: Tuhan tidak boleh di-nuhan-kan, karena itu penistaan, dan Indonesia adalah nama bangsa. Menuhankan dan mengindonesiakan adalah kata kerja, bukan kata benda, dan kata kerja tidak ditulis dengan huruf kapital.

6. Huruf besar atau huruf kecil setelah tanda baca titik dua (:)
Ada penulis berpendapat, kata setelah tanda titik dua dalam tubuh kalimat wajib diawali dengan huruf kecil, bukan huruf kapital. Ya, itu benar, apabila sesudah titik dua tadi adalah pemerian, klausa tidak lengkap, atau kutipan-sebagian. Jarar Siahaan menulis banyak topik di Google Plus-nya: tata bahasa, ulasan berita, opini tentang agama, kiat bermedia sosial, dan termasuk pengalaman cintanya. Atau Aku tahu niatmu: menjiplak twit-twitku. Namun, jika setelah tanda titik dua berupa nukilan lengkap atau kalimat langsung, kata pertamanya diawali dengan huruf besar. Aku ditanyai apa maksud kalimat itu: Merasa dengan huruf miring, berpikir dengan huruf kapital. Masalah titik dua (:) ini akan kubahas secara khusus di artikel lain.


Ikuti kiat praktis di Twitter Menulis Kalimat: @spa_si

Untuk membagikan artikel ini, pakai URL pendek:
http://benar.org/huRuf

Saya sering menulis teks ringkas perihal tata bahasa praktis di Twitter, Facebook, dan Google+. Ikutilah!



“Bagikan pengetahuanmu. Itulah jalan untuk menggapai keabadian.” —Dalai Lama XIV


KLIK tombol Suka/Tweet/g+1 di atas jika artikel ini berfaedah, dan bagikan kepada publik. Silakan narablog menyitat dengan syarat menautkan pranala laman kutipan.


TULIS komentar anda pada dua kotak di bawah dengan memakai Facebook atau Google+.


KEMBALI ke halaman beranda (klik logo) untuk melihat artikel terbaru.

Baca maklumat menuliskalimat.com

Tulislah komentar hanya terkait dengan artikel, dan jangan langgar etik berinternet (spam, trolling). Komentar dengan Facebook, Yahoo, Hotmail, atau Google+. Jika anda sudah punya akun Gmail, tinggal beberapa klik saja untuk mendapat alamat keren seperti google.com/+NamaAnda.

Sesekali saya sempat menjawab pertanyaan, termasuk di Twitter @spa_si dan +Tata Bahasa Indonesia, jika tidak membutuhkan jawaban panjang.

Narablog tak perlu izin untuk menukil tulisan dari menuliskalimat.com. Tautkan laman sumbernya; semudah itu saja. Jika anda pencinta nahunahu: tata bahasa; gramatika Indonesia dan ingin mendukung Menulis Kalimat, silakan pasang logo !’ di blog anda (lihat kodenya di bilah sisi kanan blog ini).

PENAFIAN: saya bukan sarjana linguistik atau penyelisik teori gramatika. Artikel di blog ini saya tulis berdasarkan pengalaman praktik menulis sebagai jurnalis. Karena itu, kalau anda ke situs ini untuk mencari tahu takrif diftongisasi, uraian kaidah fonologi, atau arti jargon verba ekatransitif, misalnya, harus saya katakan bahwa anda sedang … tersesat. Tak jarang pula saya sengaja menabrak kaidah baku tata bahasa Indonesia, seperti menulis pronomina anda dengan fonem pertama /a/ berhuruf kecil, serta menulis kata sambung dan di awal kalimat. Jadi, waspadalah! Dan jika sebab itu pikiran anda bergalau, segera hubungi guru bahasa terdekat.

Surat cinta terindah adalah yang dikembalikan dengan perbaikan tanda baca dan ejaan kata.

Jarar Siahaan di Tanah Batak
@ja_rar

Dalam beberapa bulan ini saya sangat jarang menulis artikel di situs MenulisKalimat.com. Namun, di media sosial Facebook, Twitter, dan Google+ saya masih aktif hampir saban hari menulis status-status pendek yang praktis perihal tata bahasa Indonesia. Sukailah laman FB @Menulis Kalimat, ikuti Twitter @spa_si, dan lingkari Google+ @Tata Bahasa Indonesia.
—www.jarar.net