Menulis kalimat langsung: boleh diubah?

Posted On // 1 comment
Apa perbedaan kalimat langsung dan kalimat tidak langsung menurut teori tata bahasa Indonesia sudah banyak ditulis di situs internet: mulai perubahan pronomina persona (kata ganti orang) hingga turun naiknya intonasi membaca.

Aku lebih tertarik menulis topik kalimat langsung ini dengan mengajukan pertanyaan: apakah boleh mengubah ucapan orang dalam bentuk kalimat langsung ataukah harus menuliskannya secara persis?

kalimat langsung

Topik ini menarik karena, menurut teori tata bahasa Indonesia, kalimat langsung adalah kalimat yang secara cermat menirukan ucapan orang. Menurut rumusan tersebut, "secara cermat menirukan" berarti mesti menuliskannya dengan persis.

Menulis kalimat langsung dalam ragam bahasa jurnalistik


Contoh ucapan seorang camat dalam wawancara pers:
"Kita sudah memanggil semua kades-kades agar supaya aktif mencek setiap warga pendatang. Kalau dicurigai, Pak Bupati menginstruksikan segera lapor polisi," kata Camat.

Kalimat langsung seperti diucapkan Camat di atas, dalam praktik bahasa jurnalistik, tidak harus dikutipkan secara persis oleh wartawan.

Berarti melanggar rumusan tata bahasa Indonesia dong?

Begitulah.

Patokan mengubah kalimat langsung


Ketika bekerja sebagai redaktur koran harian milik Jawa Pos di Medan tahun 2000, aku sering mengubah penulisan ucapan narasumber dalam kalimat langsung. Pedomanku:
  • tidak mengubah makna
  • untuk membenarkan tata bahasa, juga demi ekonomi kata
  • agar pembaca tidak salah paham.
Maka, contoh kalimat langsung di atas akan kutulis sebagai:
"Saya sudah memanggil semua kades supaya aktif mengecek setiap warga pendatang. Kalau [ada yang] dicurigai, Pak Bupati menginstruksikan segera lapor polisi," kata Camat.

Kita diubah menjadi saya, karena tentu saja si wartawan tidak ikut memanggil kepala desa (kades). Boleh juga memakai kami, karena Camat berhak mengatasnamakan lembaga atau beberapa pejabat lain di jajarannya.

Semua kades-kades diubah menjadi semua kades. Mengurangi kata mubazir.

Agar supaya diubah menjadi supaya. Juga untuk mengurangi kata mubazir. Ini prinsip ekonomi kata dalam ragam bahasa jurnalistik.

Mencek diubah menjadi mengecek. Perbaikan penulisan kata berimbuhan.

Kalau dicurigai diubah menjadi kalau [ada yang] dicurigai. Karena, ucapan asli Camat, "Kalau dicurigai, Pak Bupati menginstruksikan ...," bermakna bahwa Bupati-lah yang dicurigai. Bisa dipastikan, Camat tidak bermaksud mengatakan itu. Maka, penambahan kata ada yang bertujuan agar pembaca tidak salah memahami ucapan Camat.

Mungkin engkau sekarang bertanya: kalau begitu, kalimat langsung boleh diubah dan tidak selalu harus "secara cermat menirukan ucapan orang"?

Tidak perlu kujawab lagi, bukan?

Apakah mengubah ucapan penutur dalam kalimat langsung seperti contoh di atas hanya berlaku dalam ragam bahasa jurnalistik?

Tidak. Kau dapat menerapkannya dalam ragam bahasa tulis yang umum, termasuk saat menulis kalimat langsung pada status akun Facebook-mu atau artikel blogmu.

Tapi, bagaimana kalau guru bahasa Indonesia-ku di sekolah atau kampus memberi nilai buruk gara-gara aku mengatakan bahwa isi kalimat langsung boleh diubah?

Risiko kautanggung sendiri!

“Bagikan pengetahuanmu. Itulah jalan untuk menggapai keabadian.” —Dalai Lama XIV


KLIK tombol Suka/Tweet/g+1 di atas jika artikel ini berfaedah, dan bagikan. Silakan narablog menyitat dengan syarat menautkan pranala laman kutipan.


TULIS komentar anda pada dua kotak di bawah dengan memakai Facebook atau Google+.


KEMBALI ke halaman beranda (klik logo) untuk melihat artikel terbaru.

Baca maklumat menuliskalimat.com

Tulislah komentar hanya terkait dengan artikel, dan jangan langgar etik berinternet (spam, trolling). Komentar dengan Facebook, Yahoo, Hotmail, atau Google+. Jika anda sudah punya akun Gmail, tinggal beberapa klik saja untuk mendapat alamat keren seperti google.com/+NamaAnda.

Sesekali saya sempat menjawab pertanyaan, termasuk di Twitter @spa_si dan +Tata Bahasa Indonesia, jika tidak membutuhkan jawaban panjang.

Narablog tak perlu izin untuk menukil tulisan dari menuliskalimat.com. Tautkan laman sumbernya; semudah itu saja. Jika anda pencinta nahunahu: tata bahasa; gramatika Indonesia dan ingin mendukung Menulis Kalimat, silakan pasang logo !’ di blog anda (lihat kodenya di bilah sisi kanan blog ini).

PENAFIAN: saya bukan sarjana linguistik atau penyelisik teori gramatika. Artikel di blog ini saya tulis berdasarkan pengalaman praktik menulis sebagai jurnalis. Karena itu, kalau anda ke situs ini untuk mencari tahu takrif diftongisasi, uraian kaidah fonologi, atau arti jargon verba ekatransitif, misalnya, harus saya katakan bahwa anda sedang … tersesat. Tak jarang pula saya sengaja menabrak kaidah baku tata bahasa Indonesia, seperti menulis pronomina anda dengan fonem pertama /a/ berhuruf kecil, serta menulis kata sambung dan di awal kalimat. Jadi, waspadalah! Dan jika sebab itu pikiran anda bergalau, segera hubungi guru bahasa terdekat.

Surat cinta terindah adalah yang dikembalikan dengan perbaikan tanda baca dan ejaan kata.

Jarar Siahaan di Tanah Batak
@ja_rar
Baca artikelku tiap hari di blog KHAS dot co
www.khas.co