Menulis judul berita koran

Posted On // 2 comments
Salah satu ciri khas ragam bahasa jurnalistik adalah penulisan judul berita yang [harus] menarik dan [sebaiknya] "tidak datar". Karena itu pula, wartawan media tidak dilarang menulis judul berita dengan gaya bahasa yang sensasional dan provokatif, asalkan mencerminkan isi beritanya.



Dalam jurnalisme, media cetak yang mengutamakan berita pemerkosaan, sensualitas artis, pembunuhan, dan kasus kejahatan lainnya lazim disebut sebagai koran kuning. Selain perwajahan dengan warna norak dan foto yang banyak, penajukannya pun kerap tidak senonoh.

Pada artikel ini aku hanya ingin menguraikan penulisan judul berita, khususnya perihal bahasa jurnalistik. Jadi, kita tinggalkan saja dulu topik jurnalisme kuning tadi.

Lihatlah contoh pada gambar, judul berita di surat kabar Lampu Merah terbitan Jakarta: "Cowok ini 8 Hari 8 Malam Nge-Ho'oh Cewek; Cowok ini Digebukin Cowok ini; Cewek ini Istrinya Cowok ini".

Bentuk judul: kalimat tidak lengkap


Aku contohkan judul berita koran dengan satu kata saja, Teror!, seperti diterbitkan media pers saat memberitakan penghancuran gedung WTC, Amerika Serikat, oleh pesawat. Menurut tata bahasa Indonesia, tulisan singkat seperti itu digolongkan sebagai kalimat tidak lengkap, sama halnya dengan kalimat "Selamat pagi!" Siapa yang meneror? Siapa yang diteror? Kepada siapa diucapkan selamat pagi?

Menulis judul tentu saja tidak harus berupa kalimat lengkap, yakni kalimat yang terdiri dari setidaknya satu subjek (pokok kalimat) dan satu predikat. Judul artikel bisa ditulis dengan Cinta saja (kalimat tidak lengkap), tapi bisa juga Cinta Fitri (kalimat lengkap).

Ragam bahasa jurnalistik: ciri judul berita


Ciri khas judul berita di media pers antara lain singkat, lugas (tidak berbelit-belit dan tidak mendua makna), serta ditulis dengan kosakata yang lazim (bukan jargon seperti dalam karya tulis ilmiah).

Tapi, walaupun bahasa jurnalistik adalah ragam bahasa khusus yang "diperbolehkan melanggar" aturan-aturan penulisan bahasa Indonesia yang umum—contohnya, koran bisa memakai singkatan gelar Nama Orang, MBA (tanpa tanda titik pada M.B.A.)—, bukan berarti wartawan dapat menulis seenak perutnya. Ragam bahasa jurnalistik, termasuk dalam penulisan judul berita di koran kuning, tetap harus terikat pada batasan-batasan kode etik pers.

Dalam kasus judul berita koran Lampu Merah tadi, bahasa yang dipakai tidak bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik.

Cowok ini 8 Hari 8 Malam Nge-Ho'oh Cewek. Penulisan kata nge-ho'oh sungguh parah! Istilah itu tidak ada baik dalam kamus resmi negara, Kamus Besar Bahasa Indonesia, maupun dalam "kamus rakyat"—kata-kata baru yang sedang hidup di tengah masyarakat dan bisa diterima meskipun belum dicantumkan dalam buku kamus resmi.

Cowok ini Digebukin Cowok ini. Kata gebuk adalah kata yang merakyat dan sangat menarik ketika dipakai sebagai judul, tapi judul berita ini salah. Tidak ada akhiran -in dalam tata bahasa Indonesia. Seharusnya cukup ditulis Cowok Ini Digebuk Cowok Ini. Wartawan, saat menulis di medianya, tidak boleh menciptakan akhiran yang memang tidak ada dalam bahasa kita. Lain ceritanya kalau dia menuliskan gaya bahasa semacam itu di situs pribadi atau media sosialnya.

Cewek ini Istrinya Cowok ini. Penulisan judul ketiga ini juga salah kaprah. Tidak diperlukan kata ganti -nya pada kata istrinya. Menulis judul berita tersebut secara benar: Cewek Ini Istri Cowok Ini.

Gaya bahasa jurnalistik: kalimat merakyat


Ragam bahasa jurnalistik adalah jenis bahasa yang merakyat dan hidup. Tidak kaku. Mudah dipahami bahkan oleh pembaca yang hanya tamatan sekolah menengah pertama. Tapi, bahasa pers mesti dipakai dengan cermat.

Banyak penulisan kata dan kalimat yang salah kaprah oleh warga masyarakat yang sangat mungkin dicontoh dari tulisan di koran-koran.

Apakah engkau nge-baca, eh, membaca, koran sejenis Lampu Merah?

“Bagikan pengetahuanmu. Itulah jalan untuk menggapai keabadian.” —Dalai Lama XIV


KLIK tombol Suka/Tweet/g+1 di atas jika artikel ini berfaedah, dan bagikan. Silakan narablog menyitat dengan syarat menautkan pranala laman kutipan.


TULIS komentar anda pada dua kotak di bawah dengan memakai Facebook atau Google+.


KEMBALI ke halaman beranda (klik logo) untuk melihat artikel terbaru.

Baca maklumat menuliskalimat.com

Tulislah komentar hanya terkait dengan artikel, dan jangan langgar etik berinternet (spam, trolling). Komentar dengan Facebook, Yahoo, Hotmail, atau Google+. Jika anda sudah punya akun Gmail, tinggal beberapa klik saja untuk mendapat alamat keren seperti google.com/+NamaAnda.

Sesekali saya sempat menjawab pertanyaan, termasuk di Twitter @spa_si dan +Tata Bahasa Indonesia, jika tidak membutuhkan jawaban panjang.

Narablog tak perlu izin untuk menukil tulisan dari menuliskalimat.com. Tautkan laman sumbernya; semudah itu saja. Jika anda pencinta nahunahu: tata bahasa; gramatika Indonesia dan ingin mendukung Menulis Kalimat, silakan pasang logo !’ di blog anda (lihat kodenya di bilah sisi kanan blog ini).

PENAFIAN: saya bukan sarjana linguistik atau penyelisik teori gramatika. Artikel di blog ini saya tulis berdasarkan pengalaman praktik menulis sebagai jurnalis. Karena itu, kalau anda ke situs ini untuk mencari tahu takrif diftongisasi, uraian kaidah fonologi, atau arti jargon verba ekatransitif, misalnya, harus saya katakan bahwa anda sedang … tersesat. Tak jarang pula saya sengaja menabrak kaidah baku tata bahasa Indonesia, seperti menulis pronomina anda dengan fonem pertama /a/ berhuruf kecil, serta menulis kata sambung dan di awal kalimat. Jadi, waspadalah! Dan jika sebab itu pikiran anda bergalau, segera hubungi guru bahasa terdekat.

Surat cinta terindah adalah yang dikembalikan dengan perbaikan tanda baca dan ejaan kata.

Jarar Siahaan di Tanah Batak
@ja_rar
Baca artikelku tiap hari di blog KHAS dot co
www.khas.co