Bahasa lisan dan bahasa tulis

Posted On // 1 comment
Tidak akan ada seorang pun yang mampu menjawab pertanyaan ini, bahkan profesor bahasa, dan aku juga tidak. Dalam kalimat berikut, siapakah yang dipukul: guru atau saya?
Dipukul guru saya tiga kali sampai biru lebam.
Mungkin orang akan segera menyimpulkan bahwa pastilah saya yang dipukul, tidak mungkin guru, karena rasanya tidak masuk akal, masak guru dipukul! Kenapa tidak masuk akal? Kalau dipukul oleh kepala sekolah? Dipukul tukang palak? Atau oknum polantas pemeras? Apa yang tertulis, itulah yang harus dimaknai, bukan karena "kayaknya" atau karena "biasanya begitu".

Ragam bahasa lisan dan bahasa tulis

Pola kalimat seperti contoh di atas lazim muncul dalam ragam bahasa lisan atau percakapan. Mendengarkannya secara langsung, kita takkan kesulitan memahami maknanya. Kita cukup menyimak tekanan nada suara si pengucap. Namun, dalam ragam bahasa tulis, kalimat itu bermakna ganda alias kabur. Pembaca tidak akan bisa memastikan siapa yang dipukul, apakah guru atau saya.

Menulis kalimat tersebut sebaiknya jangan dalam bentuk "kalimat bercakap-cakap". Maknanya akan lebih mudah dipastikan apabila ditulis:
Guru saya dipukul tiga kali sampai biru lebam. (Jika dimaksudkan: guru yang dipukul.)
Saya dipukul guru tiga kali sampai biru lebam. (Jika dimaksudkan: saya yang dipukul.)
    Bentuk klitik {-ku} untuk milik saya

    Dalam kasus penulisan kata semacam guru saya, aku sendiri lebih sering memakai bentuk guruku. Untuk menyebut kepemilikan, bentuk klitik {-ku} dari kata ganti orang pertama aku lebih manjur dipakai ketimbang saya. Bukankah menulis kekasihku lebih pas dan elok ketimbang kekasih saya? Tuhanku vs Tuhan saya? Komputerku vs komputer saya?

    Apakah engkau sudah mengeklik Suka pada Halaman Facebook saya, eh, Facebook-ku, di alamat facebook.com/menuliskalimat?

    Saya sering menulis teks ringkas perihal tata bahasa praktis di Twitter, Facebook, dan Google+. Ikutilah!



    “Bagikan pengetahuanmu. Itulah jalan untuk menggapai keabadian.” —Dalai Lama XIV


    KLIK tombol Suka/Tweet/g+1 di atas jika artikel ini berfaedah, dan bagikan kepada publik. Silakan narablog menyitat dengan syarat menautkan pranala laman kutipan.


    TULIS komentar anda pada dua kotak di bawah dengan memakai Facebook atau Google+.


    KEMBALI ke halaman beranda (klik logo) untuk melihat artikel terbaru.

    Baca maklumat menuliskalimat.com

    Tulislah komentar hanya terkait dengan artikel, dan jangan langgar etik berinternet (spam, trolling). Komentar dengan Facebook, Yahoo, Hotmail, atau Google+. Jika anda sudah punya akun Gmail, tinggal beberapa klik saja untuk mendapat alamat keren seperti google.com/+NamaAnda.

    Sesekali saya sempat menjawab pertanyaan, termasuk di Twitter @spa_si dan +Tata Bahasa Indonesia, jika tidak membutuhkan jawaban panjang.

    Narablog tak perlu izin untuk menukil tulisan dari menuliskalimat.com. Tautkan laman sumbernya; semudah itu saja. Jika anda pencinta nahunahu: tata bahasa; gramatika Indonesia dan ingin mendukung Menulis Kalimat, silakan pasang logo !’ di blog anda (lihat kodenya di bilah sisi kanan blog ini).

    PENAFIAN: saya bukan sarjana linguistik atau penyelisik teori gramatika. Artikel di blog ini saya tulis berdasarkan pengalaman praktik menulis sebagai jurnalis. Karena itu, kalau anda ke situs ini untuk mencari tahu takrif diftongisasi, uraian kaidah fonologi, atau arti jargon verba ekatransitif, misalnya, harus saya katakan bahwa anda sedang … tersesat. Tak jarang pula saya sengaja menabrak kaidah baku tata bahasa Indonesia, seperti menulis pronomina anda dengan fonem pertama /a/ berhuruf kecil, serta menulis kata sambung dan di awal kalimat. Jadi, waspadalah! Dan jika sebab itu pikiran anda bergalau, segera hubungi guru bahasa terdekat.

    Surat cinta terindah adalah yang dikembalikan dengan perbaikan tanda baca dan ejaan kata.

    Jarar Siahaan di Tanah Batak
    @ja_rar

    Dalam beberapa bulan ini saya sangat jarang menulis artikel di situs MenulisKalimat.com. Namun, di media sosial Facebook, Twitter, dan Google+ saya masih aktif hampir saban hari menulis status-status pendek yang praktis perihal tata bahasa Indonesia. Sukailah laman FB @Menulis Kalimat, ikuti Twitter @spa_si, dan lingkari Google+ @Tata Bahasa Indonesia.
    —www.jarar.net