Bukan tidak: kalimat negatif

Posted On //
Menulis kalimat negatif, jika tidak cermat, bisa menimbulkan makna berbeda dari pesan yang hendak disampaikan penulisnya. Logika kalimat dalam bentuk negatif sering lebih sulit ditangkap pembaca.

Kata "bukan" dan "tidak" dipakai untuk tujuan menyangkal. Tapi, apabila dipakai secara bersamaan, "bukan tidak", makna yang muncul adalah justru positif.

Arti kata "tidak" pun bisa bergeser ketika dipakai dalam bentuk "benar tidaknya" dan "tidak benarnya". Contohkan saja berita koran memuat kalimat seperti ini:
Ketua DPRD Kabupaten Samosir mengatakan, Dewan akan segera membentuk panitia khusus (pansus) untuk menyelidiki tidak benarnya kasus korupsi Bupati.
Si Ketua DPRD itu rupanya antek Bupati. Untuk apa pula membentuk pansus kalau justru untuk membela pejabat yang diduga bersalah.

Penulisan kalimat yang benar adalah dengan membalikkan posisi dalam kata "tidak benarnya" menjadi "benar tidaknya". Arti kata "benar tidaknya": belum tentu benar, belum tentu bersalah (dan karena itu perlu diselidiki).

Saya sering menulis teks ringkas perihal tata bahasa praktis di Twitter, Facebook, dan Google+. Ikutilah!



“Bagikan pengetahuanmu. Itulah jalan untuk menggapai keabadian.” —Dalai Lama XIV


KLIK tombol Suka/Tweet/g+1 di atas jika artikel ini berfaedah, dan bagikan kepada publik. Silakan narablog menyitat dengan syarat menautkan pranala laman kutipan.


TULIS komentar anda pada dua kotak di bawah dengan memakai Facebook atau Google+.


KEMBALI ke halaman beranda (klik logo) untuk melihat artikel terbaru.

Baca maklumat menuliskalimat.com

Tulislah komentar hanya terkait dengan artikel, dan jangan langgar etik berinternet (spam, trolling). Komentar dengan Facebook, Yahoo, Hotmail, atau Google+. Jika anda sudah punya akun Gmail, tinggal beberapa klik saja untuk mendapat alamat keren seperti google.com/+NamaAnda.

Sesekali saya sempat menjawab pertanyaan, termasuk di Twitter @spa_si dan +Tata Bahasa Indonesia, jika tidak membutuhkan jawaban panjang.

Narablog tak perlu izin untuk menukil tulisan dari menuliskalimat.com. Tautkan laman sumbernya; semudah itu saja. Jika anda pencinta nahunahu: tata bahasa; gramatika Indonesia dan ingin mendukung Menulis Kalimat, silakan pasang logo !’ di blog anda (lihat kodenya di bilah sisi kanan blog ini).

PENAFIAN: saya bukan sarjana linguistik atau penyelisik teori gramatika. Artikel di blog ini saya tulis berdasarkan pengalaman praktik menulis sebagai jurnalis. Karena itu, kalau anda ke situs ini untuk mencari tahu takrif diftongisasi, uraian kaidah fonologi, atau arti jargon verba ekatransitif, misalnya, harus saya katakan bahwa anda sedang … tersesat. Tak jarang pula saya sengaja menabrak kaidah baku tata bahasa Indonesia, seperti menulis pronomina anda dengan fonem pertama /a/ berhuruf kecil, serta menulis kata sambung dan di awal kalimat. Jadi, waspadalah! Dan jika sebab itu pikiran anda bergalau, segera hubungi guru bahasa terdekat.

Surat cinta terindah adalah yang dikembalikan dengan perbaikan tanda baca dan ejaan kata.

Jarar Siahaan di Tanah Batak
@ja_rar

Dalam beberapa bulan ini saya sangat jarang menulis artikel di situs MenulisKalimat.com. Namun, di media sosial Facebook, Twitter, dan Google+ saya masih aktif hampir saban hari menulis status-status pendek yang praktis perihal tata bahasa Indonesia. Sukailah laman FB @Menulis Kalimat, ikuti Twitter @spa_si, dan lingkari Google+ @Tata Bahasa Indonesia.
—www.jarar.net