Penulisan "di" yang benar

Posted On // Leave a Comment
Jarar Siahaan, Toba Samosir — Tidak sukar menentukan apakah penulisan kata di dipisah dari kata yang mengikutinya atau digabung. Sebagai preposisi (kata depan), tuliskan terpisah. Sebagai prefiks (awalan), tuliskan serangkai. Saya menyertakan contoh-contohnya di dalam artikel ini.

Bagaimana dengan kata dibalik dan di balik, disalib dan di salib, disampingkan dan di samping, serta ditempati dan di tempat, manakah penulisan yang benar?

Semuanya tepat, tergantung pemakaiannya di dalam konteks kalimat.

bagaimana penulisan di apakah dipisah/disambung
Sumber foto: benar.org/1ezjVjJ

Penulisan di sebagai kata depan: dipisah


Dalam tata bahasa Indonesia, di adalah preposisi (kata depan), dan di- adalah juga prefiks (imbuhan yang ditempatkan di awal kata dasar, atau awalan).

Sebagai preposisi, di berfungsi untuk menandai tempat;

di ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya;

di hanya dapat diikuti kata benda atau nama tempat dan tidak dapat diikuti kata kerja.

Berikut contoh-contoh penulisan kata depan di yang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

  • di antara; bukan diantara (jangan ikuti kata Inggris among dan between yang ditulis dalam satu kata)
  • di samping; bukan disamping (jangan terpengaruh preposisi beside [di sisi; di samping] dan besides [selain] yang ditulis satu kata pada bahasa Inggris)
  • di mana-mana; bukan dimana-mana
  • di bawah; bukan dibawah
  • di sana; bukan disana
  • di situ; bukan disitu
  • di tempat; bukan ditempat
  • di hadapan; bukan dihadapan
  • di awal; bukan diawal
  • di kampung; bukan dikampung
  • di sisi; bukan disisi
  • di sebelah; bukan disebelah
  • di Medan; bukan dimedan
  • di medan perang; bukan dimedan perang
  • di lapangan; bukan dilapangan
  • di dalam; bukan didalam
  • di kalbu; bukan dikalbu
  • di mobil; bukan dimobil
  • di kantor; bukan dikantor
  • di jalan; bukan dijalan
  • di dadaku ada kamu; bukan didadaku ada kamu

Berdasarkan aturan penulisan kata depan di tersebut, sekarang anda pasti telah mafhum untuk mengoreksi kesalahan kata diluar di foto pertama di atas.

di mari ataukah dimari?


Buset dah! Tidak ada kata di mari maupun dimari di dalam bahasa Indonesia. Itu bahasa Alay yang acap dipakai oleh "anak layangan" dan kaum tua-sok-gaul di Twitter dan Facebook. Kata dimari dipelesetkan dari kata kemari.

Kalau anda bangga "berbahasa satu, bahasa primitif Alay", lanjutkanlah menulis dimari dan di mari.

penulisan DI dipisah atau disambungpenulisan kata DI terpisah atau serangkai
Sumber foto: benar.org/1ezbeG0 dan benar.org/1ezbrt1

Penulisan di- sebagai prefiks: disambung


Sekarang penggunaan di- sebagai imbuhan, bentuk terikat yang tidak dapat berdiri sendiri dan tidak memiliki makna bila tak disatukan dengan kata lain.

Sebagai prefiks, di- berfungsi untuk membentuk verba (kata kerja) pasif;

di- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya;

di- diikuti oleh bentuk dasar kata kerja.

Pada contoh-contoh di bawah ini, selain prefiks di-, juga ada penulisan konfiks di-kan dan di-i.

  • ditulis; bukan di tulis
  • dibeli; bukan di beli
  • disuap; bukan di suap
  • diintip; bukan di intip
  • dikejar; bukan di kejar
  • dibuat; bukan di buat
  • dioper; bukan di oper
  • disambung; bukan di sambung
  • diminta; bukan di minta
  • dikasih; bukan di kasih
  • dipakai; bukan di pakai
  • disewa; bukan di sewa
  • diajar; bukan di ajar
  • dihajar; bukan di hajar
  • ditambah; bukan di tambah
  • dialihkan; bukan di alihkan
  • dikemanakan; bukan di kemanakan
  • disampingi; bukan di sampingi
  • disampingkan; bukan di sampingkan
  • dikesampingkan; bukan di kesampingkan
  • ditempati; bukan di tempati
  • didatangi; bukan di datangi
  • dicintai; bukan di cintai
  • dikambinghitamkan; bukan dikambing hitamkan

di balik ataukah dibalik, di salib atau disalib?


Semua penulisan tersebut tepat. Kata pertama, di balik, menunjukkan tempat. Contohnya dalam kalimat: Sapu disimpan di balik pintu. Kata kedua, dibalik, adalah kata kerja, yang dipakai dalam kalimat pasif. Contoh: Halaman buku dibalik dan kemudian dibaca.

Aturan yang sama juga berlaku untuk kata di salib dan disalib. Tuliskanlah contohnya dalam kalimat anda sendiri.


Jadi, dalam konteks foto-foto di atas, mana penulisan yang benar: dikunci ataukah di kunci, dijual ataukah di jual, dibutuhkan ataukah di butuhkan, dilarang ataukah di larang?

Satu contoh penutup. Benar: di kunci lemari ada bercak tinta. Salah: dikunci lemari ada bercak tinta.

Dalam kalimat itu, kunci sebagai nomina (kata benda), yaitu alat untuk menutup pintu, laci, dsb., bukan sebagai verba (kata kerja) dengan makna ditutup.


Ikuti blog Menulis Kalimat di Facebook, Twitter, dan Google +Tata Bahasa Indonesia.

Nama acara-TV sontoloyo

Posted On // Leave a Comment
Bangga berbahasa Indonesia bukan berarti antibahasa asing. Saya sendiri “mengiri” melihat beberapa teman narablog Indonesia yang cakap menulis dalam bahasa Inggris.

Adakalanya kita pantas menulis dalam bahasa Inggris, atau berbahasa gado-gado campuran Inggris dan Indonesia, misalnya dalam artikel catatan harian di situs personal atau status di profil Facebook. Tetapi, acara televisi yang materinya dibawakan dalam bahasa Indonesia dan ditujukan kepada khalayak Indonesia layakkah diberi judul berbahasa Inggris?

penelitian Kepala Pusat Bahasa nama acara TV
Gambar: Ivan Lanin

Tabel di atas adalah hasil penelitian guru besar linguistik Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. E. Aminudin Aziz, yang juga Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, berdasarkan jadwal acara televisi yang dimuat di surat kabar Pikiran Rakyat.

Yang bikin saya terbengang adalah lajur Mata Acara Lokal dengan Judul Berbahasa Asing. Sungguh terlalu Kompas TV dan Metro TV, dua televisi yang berdekatan dengan kata mendidik dan bermutu, menayangkan sangat banyak programa dengan nama yang dihebat-hebatkan macam itu.

Di televisi-televisi swasta Indonesia bermunculan acara sok keinggris-inggrisan kayak Kick Andy, Today’s Dialogue, Stand-Up Comedy Show, Just Alvin, Headline News, Economic Challenges, Spotlite, On the Spot, Enjoy City Living, The ABC of Cooking Adventure with William Wongso, Mobile Trend, Spirit Football, dan E-Lifestyle. Padahal, isinya berbahasa Indonesia, pembawa acaranya berbahasa Indonesia, narasumber yang diwawancarai pun memakai bahasa Indonesia, dan target penontonnya juga orang Indonesia.

Kalau begitu, Stand-Up Comedy termasuk nama-acara yang “lucu”—yang saya maksudkan “lucu” adalah nama acara itu, bukan isi acaranya. Bahasawan Ivan Lanin pernah menggagas lawakan tunggal sebagai padan kata stand-up comedy.

Saya jadi terkenang dengan nama-nama acara TVRI zaman dulu, yang sedap, semacam Berpacu Dalam Melodi, Ria Jenaka, dan Dunia Dalam Berita.

nama acara TV swasta terkenal
Gambar: diolah dari Twitter

Bahasa jurnalistik: bahasa awam


Beberapa dari programa TV berbahasa Inggris di paragraf kelima di atas adalah produk jurnalisme, dan karena itu, bagi saya, tampak makin konyol. Misalnya, Today’s Dialogue, Kick Andy, Just Alvin, Headline News, dan Economic Challenges. Mestinya pengelola programa itu memelototi Mata Najwa, acara TV dengan titel yang tak berlagak kebule-bulean tapi tetap enak dan “genit” untuk dijual ke publik.

Bahasa jurnalistik atau bahasa pers sejatinya adalah bahasa awam, bahasa untuk orang kebanyakan. Dua wartawan senior, Andy F. Noya (acara Kick Andy; mantan pemimpin redaksi di Media Indonesia) dan Tommy Suryopratomo (acara Economic Challenges; mantan Pemimpin Redaksi Kompas), pasti memahami apa yang saya maksud.

Dalam bahasa ringkas saya, bahasa jurnalistik adalah menjelaskan informasi kepada publik dengan kata-kata sesederhana mungkin. Boleh berbahasa gaul, tapi jangan konyol.

Makin sulit suatu kata atau bahasa kaum pers untuk dipahami orang, makin rendahlah nilai keberhasilan bahasa itu.

Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang membumi, bukan bahasa yang melangit.

Soal kata-kata sok keinggrisan, cobalah simak yang satu ini: seorang pembawa acara televisi swasta Indonesia, seperti dikutip dari koran Suara Merdeka [via], berkata, “Pemirsa, di sini keadaan udah semakin kacau. Pokoknya ruined banget. Di sini kita hectic dan chaos banget. Jangan ke mana-mana. We’ll be back. Keep on ngirim SMS aja.”

Hancur! Awak TV yang berlagak cendekia. Kayak si Agnes Monica saja.


Arti kata sontoloyo:

konyol; tidak beres; bodoh

Arti kata konyol:

  • tidak sopan; kurang ajar;
  • agak gila; kurang akal;
  • tidak berguna; sia-sia

Koma sebelum kata tugas “yang”

Posted On // Leave a Comment
Tentang penggunaan tanda baca koma sebelum kata tugas yang. Mengapa terkadang tanda koma dipakai sebelum dan setelah partikel yang dan kadang tidak dipakai? Saya menyertakan beberapa contoh kalimat.

koma sebelum kata yang

Kaidah pemakaian tanda koma sebelum partikel yang, salah satu kata yang paling sering dipakai dalam tulis-menulis, saya ibaratkan pasal karet pada hukum pidana. Ia bisa dipakai dan bisa tak dipakai. Tergantung kepentingan.

Sebagai contoh, saya menyitat kembali empat kalimat, yang serupa tapi tak sama, yang pernah saya tulis di Facebook @Menulis Kalimat dan Twitter @spa_si:
  1. Islam-lah agama yang, menurut penganutnya, paling benar.
  2. Islam-lah agama yang menurut penganutnya paling benar.
  3. Islamlah agama, yang menurut penganutnya, paling benar.
  4. Islamlah agama yang menurut penganutnya paling benar.
Yang manakah penulisan kalimat yang tepat secara tata bahasa?

Yang pasti bukan kalimat nomor 3. dan 4., karena kata berhuruf kapital Islam seharusnya diikuti dengan tanda baca - (garis hubung) kalau digandengkan dengan partikel -lah (tentang topik ini, tanda hubung plus kata berleter pertama kapital, akan saya tulis pada artikel khusus). Sekarang tinggal kalimat nomor 1. dan 2. Jadi, yang mana yang benar?

Secara ketepatan makna, penulisan kalimat kedua adalah yang paling pas: Islam-lah agama yang menurut penganutnya paling benar.
  • Bukan menurut penganut agama Kristen atau Hindu.
  • Bukan menurut fakta umum/kebenaran mutlak.
  • Kebenaran menurut kelompok tertentu, yaitu kalangan orang Islam.
Untuk mempermudah, bandingkan jika kalimat sejenis ditulis:
Katolik adalah agama yang, menurut penganutnya, paling benar.

Saat membacanya, tutuplah kata-kata yang diapit tanda kutip, menurut penganutnya:
Katolik adalah agama yang paling benar.

Apakah tepat bahwa “Katolik adalah agama yang paling benar”? Tentu saja tidak. Namun, akan dapat diterima jika kalimat itu berbunyi “Katolik adalah agama yang menurut penganutnya paling benar.”

Jadi, Islam dan Katolik adalah agama yang paling benar menurut penganutnya. Anak kalimat menurut penganutnya itulah yang tidak bisa dipisahkan dengan tanda baca koma.

Tanpa koma sebelum/sesudah partikel yang


Saya beri lagi dua contoh kalimat lain dengan komposisi yang sama:
  1. Nokia-lah ponsel yang, menurut saya, paling bagus.
  2. Nokia-lah ponsel yang menurut saya paling bagus.
Apakah benar Nokia sebagai ponsel terbaik? Tentu tidak bisa dipastikan demikian. Namun, Nokia dapat dipastikan sebagai yang terbaik menurut saya (bukan menurut orang lain). Karena itulah, penulisan kalimat yang tepat adalah nomor 2.

Contoh kalimat lain yang benar dan salah:
Murid perempuan yang malas belajar itu dihukum guru.

Murid perempuan, yang malas belajar itu, dihukum guru.

Anaknya yang paling tua akan berulang tahun.

Anaknya, yang paling tua, akan berulang tahun.

Klausa pembatas yang malas belajar itu tidak didahului dan tidak diakhiri dengan tanda koma, karena ia berfungsi mempertegas/menunjuk “murid perempuan mana yang dihukum guru”. Begitu juga halnya dengan klausa yang paling tua, yang berguna untuk menunjuk “anaknya yang mana”.

Berdasarkan contoh-contoh kalimat tadi: tanda koma tidak perlu sebelum/setelah kata tugas yang apabila kata-kata yang mengikuti yang bersifat sebagai pembatas/penunjuk atau terikat dengan kata/klausa sebelumnya.

Tanda koma sebelum kata tugas yang


Contoh kalimat dengan tanda koma sebelum kata yang:
Presiden SBY, yang bertubuh tinggi tegap, sering sekali berkata prihatin. (Walaupun klausa yang bertubuh tinggi tegap dihapus, makna kalimat itu takkan berubah.)

Menurut Tuan Sirik, artikel di situs Menulis Kalimat dotcom, yang dikelola Jarar Siahaan, tak ilmiah dan tak bermutu untuk dibaca. (Meski anak kalimat yang dikelola Jarar Siahaan ditiadakan, maksud/pesan kalimat itu juga tidak berubah.)

Dalam kedua kalimat di atas, kata-kata di bagian “yang …” hanya berfungsi sebagai penjelasan tambahan untuk kata-kata sebelumnya (Presiden SBY dan Menulis Kalimat dotcom) dan tidak bersifat sebagai pembatas, sehingga ia diapit di antara tanda baca koma.

“Kaidah” tata bahasa Indonesia mengenai pemakaian tanda baca koma sebelum kata tugas yang tersebut tidak saya dasarkan pada hukum gramatika atau buku linguistik mana pun. Itulah akidah yang sekarang saya anut menurut pengalaman praktik menulis. Jadi, anda boleh berbeda paham.

Kalau anda memunyai kalimat dengan tanda koma dan kata tugas yang, yang mungkin bikin anda bergalau—apakah pakai tanda koma atau tidak—, silakan tulis di dalam kotak komentar untuk kita bahas bersama-sama.


MAKNA KATA

⇢ partikel (jargon tata bahasa): kata tugas; kata mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal (termasuk di dalamnya: artikel, preposisi, konjungsi, dan interjeksi)
⇢ akidah: kepercayaan dasar; keyakinan pokok
⇢ kaidah: aturan yang sudah pasti; patokan; dalil; rumusan asas yang menjadi hukum
⇢ menyitat: mengutip; menukil; memetik; mengambil perkataan/kalimat dari sumber lain

Ini kalimat elok untuk anda kicaukan ulang ke Twitter:

Sintaksis: kalimat perincian

Posted On // Leave a Comment
Apa jadinya bila seorang guru bahasa Indonesia, yang terlebih-lebih juga penulis puluhan buku pelajaran tata bahasa Indonesia, tidak menguasai sintaksis atau ilmu tata kalimat?

Semacam pepatah tua guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

kalimat perincian

Seperti ternukil di tulisan saya tentang verba berimbuhan, guru bahasa Indonesia itu menulis artikel bahwa murid-muridnya tidak tahu mengoreksi satu kalimat sederhana. Padahal, bahasa si guru sendiri berkali-kali bergalat di dalam artikelnya!

Dari tiga paragrafnya saja saya menemukan sangat banyak kesalahan tata bahasa. Dua kasus telah saya ungkap dalam dua tulisan sebelumnya: “Kata kerja berimbuhan” dan “Kata sambung: di mana?”.

Saya kembali menyitat tiga alinea bermasalah guru bahasa Indonesia itu:

Saya pernah meminta peserta didik untuk memerbaiki sebuah kalimat saya tidak tahu mengapa peristiwa itu terjadi. […]

Kalimat di atas harus diawali huruf besar pada subjeknya, menambahkan imbuhan /me-i/ pada predikatnya, mengganti kata mengapa dengan kata lain yang semakna, dan memberi tanda titik pada akhir kalimat. Dengan penjelasan itu, akan diperoleh kalimat Saya tidak mengetahui penyebab terjadinya peristiwa itu.

Para siswa tidak dapat memerbaiki kalimat itu karena mereka menggunakan sistem atau Tatabahasa Inggris (grammar). Bahasa Inggris membolehkan penggunaan kata tanya di tengah kalimat. Kondisi itu sangat berbeda dengan bahasa Indonesia ….

Sekiranya bukan sarjana tata bahasa Indonesia yang menulis kalimat kacau-balau semacam itu, saya akan mengabaikannya. Tetapi, karena penulisnya seorang pendidik tata bahasa, apalagi juga penulis buku-buku pelajaran bahasa Indonesia, saya perlu mengacuhkannya.

Mari tinjau kembali alinea kedua, yang merupakan kalimat perincian, pada nukilan artikelnya: Kalimat di atas harus diawali huruf besar pada subjeknya, menambahkan imbuhan /me-i/ pada predikatnya, mengganti kata mengapa dengan kata lain yang semakna, dan memberi tanda titik pada akhir kalimat.

Kalimat perincian itulah kekeliruan yang ketiga gramatika si guru bahasa.

Sintaksis: menulis kalimat perincian


Apakah anda tahu mengapa kalimatnya itu salah?

Untuk membantu anda menemukan galatnya, saya tuliskan dua contoh kalimat perincian yang benar secara tata bahasa dan, agar mudah anda pahami, lebih pendek:

Dia suka menulis puisi, membaca novel, mendengarkan musik, dan menonton film.

Bukuku dikeluarkan dari tas, disobek-sobek, dicoreti dengan pensil, dan kemudian dibuang oleh adikku.

Setelah menyimak kedua kalimat saya itu, anda seyogianya telah bisa menemukan kesalahan dalam kalimat si guru bahasa Indonesia dan sekaligus memperbaikinya.

Untuk mengentengkannya lagi, perhatikanlah gatra pangkal dalam dua kalimat yang saya contohkan dan satu kalimat bermasalah si guru bahasa: Kalimat, Dia, dan Bukuku. Kemudian, lihatilah kata-kata kerja yang menjadi unsur perinciannya.

Sekarang sudahkah anda temukan letak masalahnya?


Kata kerja berimbuhan

Kata dasar: baik
Dengan imbuhan memper-i: memperbaiki (bukan memerbaiki)
Bentuk verba pasif: diperbaiki

Perbendaharaan kata

Kata dasar: perinci (bukan rinci)
Kata turunan: memerinci (bukan merinci); perincian; pemerincian; terperinci (bukan terinci)
Penulisan yang benar: tata bahasa (bukan tatabahasa)

Tanda titik dalam kalimat

Posted On // Leave a Comment
Salah satu fungsi tanda baca titik (.), anda pasti mafhum, adalah untuk memarkahi akhir sebuah kalimat berita—bukan kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru. Yang jadi soal: bilamana kalimat mesti diakhiri dengan titik?

Secara ringkas, kalimat terdiri dari [hanya] satu pernyataan yang lengkap. Kalimat adalah “kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan”, seperti tertulis di kitab Kamus Besar Bahasa Indonesia.

tandabaca-titik

Contoh pemakaian tanda baca titik yang paling mudah bisa ditemukan pada kalimat tunggal.
  • Guru bahasa Indonesia itu tengah mengajari murid-muridnya.
  • Dia mengaku senang membaca blog Menulis Kalimat.
Kalimat berita dengan satu gagasan, seperti contoh di atas, dapat disudahi dengan gampang memakai tanda titik. Itulah kalimat tunggal: segera pungkasi kalimat anda begitu satu pernyataan telah lengkap. Dengan demikian, kalimat menjadi singkat, padat, tidak bertele-tele, dan mudah dicerna oleh pembaca.

Akan tetapi, adakalanya, bahkan sering, gagasan luas yang mengandung lebih dari satu pokok pikiran mesti ditulis dalam satu kalimat panjang. Di dalam teori ilmu tata bahasa Indonesia, ia disebut sebagai kalimat majemuk.

Tanda baca titik yang salah


Tidak perlu spasi sebelum tanda baca titik di akhir kalimat, tapi setelahnya, spasi dipakai. Dalam kalimat langsung, tanda titik ditaruh di dalam petikan atau sebelum tanda petik penutup, bukan setelah petik.

Contoh yang salah:
  • Menulis kalimat langsung, menurut menuliskalimat.com, lebih berisiko ketimbang menulis kalimat tidak langsung.Bagaimana menurut kalian?
  • Jarar Siahaan berkata, “Koma adalah tanda baca yang paling banyak digunakan dalam kalimat”.

Contoh penggunaan tanda titik yang benar


Agar lebih mengena dan nyata, saya nukilkan dua paragraf berita yang pernah saya tulis di surat kabar dan terbitkan kembali di blog Narasi Nonfiksi dengan tajuk “Jurnalisme Gaya Manusia”. Perhatikanlah penggunaan tanda baca titik di akhir setiap kalimat ini.

Gaya berpakaiannya memang sering meniru polisi atau tentara. Hari itu dia mengenakan celana militer yang terpotong sebatas lutut. Kepalanya ditutupi topi polisi yang diganjal dengan kertas koran karena longgar. Bajunya kaus oblong hijau. Kakinya memakai sepatu kets dan dua kaus kaki yang berbeda warna.

“Umurku tujuh belas tahun ke atas. Aku ditugaskan Presiden ke Porsea,” kata dia sekenanya. “Tulis ya, Bang, gajiku satu bulan lima hari. Istri bapakku sudah mati. Aku sudah kawin. Aku sekolah luar biasa. Tutup pabrik Indorayon, buka sedikit!”

Apakah bisa, misalnya, kalimat kedua digabungkan dengan kalimat ketiga dan seterusnya dengan memakai tanda baca koma?—seperti:
Hari itu dia mengenakan celana militer yang terpotong sebatas lutut, kepalanya ditutupi topi polisi yang diganjal dengan kertas koran karena longgar, dan bajunya kaus oblong hijau.

Saya persilakan anda, Pembaca sekalian, untuk menjawabnya dan saling berdiskusi.

Tanda titik, hindari koma


Bagian terakhir ini untuk menjawab pertanyaan di teras artikel.

Pakailah tanda baca titik di ujung kalimat yang telah lengkap. Hindari menggunakan tanda koma dan menyambungnya dengan kalimat lain.

Contoh yang salah:
Harga Kamus Besar Bahasa Indonesia sangat mahal, pembelinya tidak sebanyak pembeli novel cinta.

Kalimat yang benar:
Harga Kamus Besar Bahasa Indonesia sangat mahal. Pembelinya tidak sebanyak pembeli novel cinta.

Atau, bila ingin menulis kedua kalimat itu menjadi satu, pakailah kata sambung atau konjungsi yang tepat. Cobalah!

Jarar Siahaan


ARTI KATA
pewataspembatas
pungkas, memungkasimengakhiri
sesuatukata ganti untuk menyatakan barang/hal yang tidak tentu (bukan tentang jumlah)
suatusatu; hanya satu (tentang jumlah)

Kata sambung (konjungsi): di mana?

Posted On // Leave a Comment
Fungsi kata sambung, atau kata hubung, atau konjungsi, atau kata penghubung—keempatnya bermaksud sama—adalah untuk mempertalikan kata dengan kata (antarkata), frasa dengan frasa (antarfrasa), klausa dengan klausa (antarklausa atau intrakalimat), dan kalimat dengan kalimat (antarkalimat).

kata sambung konjungsi

Sedikit contoh kata tugas konjungsi: bahwa, dan, atau, namun, tanpa, dengan, karena, sejak, ketika, jika, meskipun, bahkan, jangankan, padahal, apalagi, sedangkan.

Yang hendak saya permasalahkan di artikel ini: pemakaian kata tanya, seperti di mana, ke mana, mengapa, dan bagaimana, yang [seolah-olah] berfungsi sebagai kata penghubung antarklausa atau intrakalimat.

Dalam tata bahasa Indonesia, menurut banyak ahli gramatika, kata tanya tidak [boleh] berfungsi ganda sebagai kata penghubung antarklausa sebagaimana pemakaian kata tugas where (di mana) di tengah kalimat bahasa Inggris. Dan banyak pula nukilan buku, pendapat pakar bahasa, terbit di internet bahwa padanan yang cocok untuk konjungsi where dalam bahasa Indonesia adalah tempat.

Jadi, seturut kaidah baku tata bahasa Indonesia itu, kalimat tidak langsung He painted the room where he usually slept, contohnya, akan salah jika ditulis dalam bahasa Indonesia sebagai [1] Dia mengecat kamar di mana dia biasanya tidur. Penulisan yang benar, menurut aturan bahasa itu: [2] Dia mengecat kamar tempat dia biasanya tidur.

Sebaliknya, tidak sedikit penulis profesional memakai bentuk kalimat yang salah seperti varian [1]. Saya sendiri juga begitu dengan sengaja. Mengapa?

Jawaban saya: demi menulis kalimat yang sangkil dan lentur, dan karena “ilmu bahasa bukanlah saudara dekat ilmu matematika”.

Contoh kesengajaan saya melanggar pantangan kata tanya di mana sebagai kata penghubung antarklausa pernah saya tulis dalam kalimat Balige kota kecil yang dingin di tepi Danau Toba di mana saya bisa memakai selimut tebal saat tidur pada malam hari.

Cobalah ganti kata tanya di mana yang terdapat di tengah kalimat itu dengan kata benda tempat. Dan sekarang tersenyumlah untuk keburukan cita rasanya.

Bagaimana kalau ada guru bahasa Indonesia yang mengajarkan bahwa kata tanya tidak boleh ditulis di tengah kalimat?

Tampaknya dia tidak sedang memburaskan tabu dalam konjungsi antarklausa, tetapi lebih tepat sedang mengigau. Melarang murid menulis kata tanya di tengah kalimat berbeda dari melarang murid menulis kata tanya sebagai konjungsi antarklausa.

Di artikel “Kata kerja berimbuhan” saya menulis ajaran seorang guru bahasa Indonesia bahwa kalimat Saya tidak tahu mengapa peristiwa itu terjadi adalah salah, dan yang benar adalah Saya tidak mengetahui penyebab terjadinya peristiwa itu. Menurut dia, “Bahasa Inggris membolehkan penggunaan kata tanya di tengah kalimat. Kondisi itu sangat berbeda dengan bahasa Indonesia.”

Jadi, kalau demikian, apakah kalimat Polisi menyelidiki ke mana dan bagaimana penjahat itu kabur harus diubah menjadi Polisi menyelidiki tempat/tujuan dan cara/teknik penjahat itu kabur?

Weleh, weleh!

Atau kalimat yang ini: Presiden SBY heran mengapa rakyat tidak puas juga melihat kinerjanya. Cobalah ganti kata tanya mengapa di tengah kalimat itu dengan penyebab.

Ataukah kalimat sederhana Dia sudah berkata jujur siapa namanya juga harus dipermak menjadi Dia sudah berkata jujur tentang namanya supaya tidak menyalahi kaidah baku tata bahasa Indonesia?

Weleh, weleh!

Kita ini sedang berbahasa antar-Homo Sapiens ataukah tengah bersikeras agar sempurna lantas bisa masuk surga? (Jangan-jangan nanti frasa verbal masuk surga pun disalahkan dan mesti diganti dengan masuk ke surga.)

Weleh, weleh!

Si guru bahasa Indonesia itu barangkali lupa: bahasa Indonesia-kini juga diperkaya dengan bahasa Inggris. Jadi, mengapa pula mesti kaku dan sok baku menghindari kata tanya di mana sebagai kata sambung antarklausa? Ia sudah lama hidup dan berkembang di dalam bahasa kita, dan terbukti berdaya guna memperlancar komunikasi.

Sebaliknya, kenapa juga tidak sedikit ilmuwan bahasa Indonesia yang malah membela bahasa Alay dengan bermacam argumen weleh-weleh?


Di blog Menulis Kalimat ini saya sengaja memakai huruf kecil dalam penulisan judul (jangan ditiru jika tak kuat iman!). Namun, di blog yang baru, Narasi Nonfiksi (www.nonfiksi.com), saya menaati aturan huruf kapital pada judul.

Kata kerja berimbuhan

Posted On // Leave a Comment
Saya sempat semak hati, sebelum kemudian berang, membaca artikel seorang guru bahasa Indonesia yang telah menulis puluhan buku.

Saya menyitat tiga paragraf di bawah ini dari tulisan si guru bahasa lewat penelusuran Google.

kata kerja verba berimbuhan

+Jarar Siahaan

Saya pernah meminta peserta didik untuk memerbaiki sebuah kalimat saya tidak tahu mengapa peristiwa itu terjadi. [...]

Kalimat di atas harus diawali huruf besar pada subjeknya, menambahkan imbuhan /me-i/ pada predikatnya, mengganti kata mengapa dengan kata lain yang semakna, dan memberi tanda titik pada akhir kalimat. Dengan penjelasan itu, akan diperoleh kalimat Saya tidak mengetahui penyebab terjadinya peristiwa itu.

Para siswa tidak dapat memerbaiki kalimat itu karena mereka menggunakan sistem atau Tatabahasa Inggris (grammar). Bahasa Inggris membolehkan penggunaan kata tanya di tengah kalimat. Kondisi itu sangat berbeda dengan bahasa Indonesia ....

Kata kerja (verba) berimbuhan


Saya terkesiap membaca artikel si guru bahasa Indonesia bahwa [subjek] + [predikat tahu] sebagai kesalahan dan harus dikoreksi menjadi [subjek] + [predikat mengetahui], dengan kata kerja berimbuhan.

Jangan-jangan dia pun akan menyalahkan pemakaian bentuk dasar kata-kata kerja yang lain, seperti kenal dalam kalimat Baru mendengar suaranya, aku sudah kenal siapa dia (saya kutip persis dari Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI] pada entri kata dasar kenal), dan harus mengubahnya menjadi Baru mendengar suaranya, aku sudah mengenali siapa dia?

Kata tanya tak boleh di tengah kalimat?


Dia menulis: "Bahasa Inggris membolehkan penggunaan kata tanya di tengah kalimat. Kondisi itu sangat berbeda dengan bahasa Indonesia ...."

Dengan kata lain, dia mengajari murid-muridnya bahwa dalam bahasa Indonesia kata tanya tidak boleh dipakai di tengah kalimat.

Menulis kata tanya di tengah kalimat Saya tidak tahu mengapa peristiwa itu terjadi dan Aku tak peduli apa dan di mana benda itu bukanlah kesalahan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pada lema kata kerja tahu dengan makna "mengerti, berpengertian" tercantum contoh penggunaan dalam kalimat: Siapa yang tahu apa maksud tanda ini?; dengan makna "pandai, cakap": Sedikit-sedikit saya tahu juga tentang mesin; dan dengan makna "insaf, sadar": Dia tidak tahu akan kekurangannya.

Masih dalam KBBI, pada sublema mengetahui pun terdapat contoh kalimat dengan kata tanya apa di tengahnya: Kami belum mengetahui apa sebabnya dia tidak datang.

Kalau memang salah, kenapa KBBI mencontohkan "... tahu apa ..."?

Si guru bahasa Indonesia, kalau begitu, perlu menulis surat protes kepada Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar mereka meniadakan kata-kata tanya di tengah kalimat; menghapus bentuk dasar verba tahu; dan cukup mencantumkan bentuk-bentuk turunan, seperti mengetahui, saja dalam KBBI.

Dalam ketiga alinea sitat di awal artikel ini sebenarnya masih ada beberapa galat tata bahasa Indonesia yang ingin saya bahas, seperti soal kata penghubung antarklausa (masih berkaitan dengan penggunaan kata tanya di tengah kalimat), kesesatan kata kerja berimbuhan memerbaiki, dan perkara sintaksis (tata kalimat) perincian. Tapi, itu saja yang sekarang sempat saya tulis. Besok-besoklah lagi.

Saya tengah geram! Tahu?

Penulisan judul: huruf kecil dan besar

Posted On // 4 comments
Bagaimana aturan menulis judul yang benar dan baku menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan? Apakah semua kata mesti diawali dengan huruf besar? Kata-kata apa saja yang harus ditulis dengan huruf kecil? Bagaimana dengan penulisan kata ulang pada judul artikel dan buku?

penulisan judul artikel huruf kecil besar

Secara umum, menurut saya, jawaban yang paling mudah diingat: gunakan huruf kecil hanya untuk kata-kata yang bersifat partikel, termasuk konjungsi (kata penghubung), preposisi (kata depan), dan interjeksi (seruan perasaan).

Namun, perhatikan, ada kata partikel tertentu yang bisa ditulis dalam judul karangan dengan huruf kecil dan bisa juga dengan huruf kapital.

Kaidah penulisan judul menurut Pedoman Umum EYD: huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Kata tugas adalah kata yang menyatakan hubungan gramatikal yang tidak dapat bergabung dengan afiks (imbuhan), dan tidak mengandung makna leksikal.

Contoh penulisan judul yang baku menurut kaidah EYD:
Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

Saya berikan contoh lain:
Kita Tidak Akan ke Mana pun

Kata Tidak dan Akan ditulis dengan huruf pertama kapital, bukan huruf kecil.

Kata ulang dalam judul artikel


Bagaimana dengan penulisan kata ulang dalam judul karangan? Apakah semua unsurnya mesti dimulai dengan huruf besar?

Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, hanya kata ulang sempurna yang semua unsurnya diawali dengan huruf kapital. Jadi, tidak termasuk kata ulang berubah bunyi dan kata ulang berimbuhan.

Contoh kata ulang sempurna (dwilingga)


Dwilingga disebut juga sebagai kata ulang utuh, sempurna, atau penuh. Misalnya murid-murid, jalan-jalan, partai-partai, samar-samar, masalah-masalah, bukit-bukit, surat kabar-surat kabar, dan buku-buku.

Dengan demikian, judul artikel "Pengesahan Undang-Undang yang Baru" adalah benar, dan bukan dengan Undang-undang.

Contoh kata ulang berubah bunyi


kocar-kacir; gerak-gerik; sayur-mayur; lauk-pauk; kacau-balau; pernak-pernik

Contoh penulisan judul yang benar dengan kata ulang tersebut:
Harga Sayur-mayur di Pasar Naik

Ditulis dengan satu huruf kapital, Sayur-mayur, bukan Sayur-Mayur.

Contoh kata ulang berimbuhan


berjam-jam; berkali-kali; sayur-sayuran; memasak-masak; berguling-guling; tergopoh-gopoh; pukul-memukul; berkejar-kejaran

Contoh penulisan judul dengan kata ulang berimbuhan:
Puluhan Siswa Kejar-mengejar dalam Tawuran

Ditulis dengan satu huruf besar pada Kejar-mengejar, bukan Kejar-Mengejar.

Huruf kecil di judul: partikel, konjungsi, preposisi, interjeksi


Kata-kata yang tergolong sebagai partikel, yaitu konjungsi (kata penghubung), preposisi (kata depan), dan interjeksi (seruan perasaan), ditulis dengan huruf kecil pada judul karangan, kecuali ia terletak di awal judul:
pun; per; demi; si; ala; dari; daripada; di; ke; pada; kepada; terhadap; dan; atau; untuk; yang; dalam; dengan; jika; maka; tapi; meskipun; kendati; walau; kalau; karena; bila; tentang; sebagai; secara; seperti; ialah; agar; supaya; hingga; sejak; ah; oh; deh; dong; kok

akan, soal, dalam, kok


Hati-hati dengan kata-kata bermakna ganda, misalnya kata akan, yang bisa ditulis pada judul dengan huruf kecil dan juga dengan huruf kapital, tergantung artinya.

Bupati Belum Akan Melantik Camat (huruf besar Akan)

Artis yang Lupa akan Orang Tuanya (huruf kecil akan)

Pada contoh kedua itu, kata akan berfungsi sebagai preposisi (kata depan), dengan arti "kepada" atau "terhadap".

Begitu juga halnya dengan kata soal, yang bisa berarti "perkara" dan "naskah ujian" (sehingga ditulis pada judul dengan huruf kapital: Soal) serta "tentang" (sehingga ditulis dengan huruf kecil: soal).

Kata dalam pun demikian, bisa sebagai kata depan dan bisa sebagai kata sifat.

Kata kok sama halnya: sebagai partikel dan sebagai kata tanya "mengapa".

Format penulisan judul berita: huruf kecil


Saya sendiri beberapa tahun terakhir mengubah gaya penulisan judul artikel menjadi berbeda dari yang diatur dalam Ejaan yang Disempurnakan. Saya tidak lagi memakai format "semua kapital" baik pada judul berita di koran maupun judul artikel opini di situs blog. Saya menulis huruf besar hanya untuk kata pertama dan kata-kata yang wajib dikapitalkan, seperti nama orang, nama daerah, nama instansi, kitab suci agama, dsb.

Sebagian media pers nasional dan mancanegara juga menganut aliran penjudulan artikel seperti itu. Memang menjadi lancung, tidak baku, tak menurut aturan main, tapi itulah bahasa jurnalistik—khas dan "sah untuk melanggar aturan".

Tanda baca dalam judul


Pada kesempatan lain saya akan menulis artikel tentang penggunaan tanda-tanda baca dalam judul, seperti tanda tanya, tanda seru, tanda koma, tanda titik, tanda kutip, tanda titik dua, tanda dan (&), tanda kurung, dan juga penulisan huruf miring.


Silakan bagikan artikel ini dengan tombol Twitter, Facebook, dan Google+ di bawah atau di samping kiri. Agar tak ketinggalan, ikuti akun media sosial Menulis Kalimat:
www.facebook.com/menuliskalimat
@spa_si
Baca artikelku tiap hari di blog KHAS dot co
www.khas.co